Lembaran Putih Kekhalifahan Umayyah

Lembaran Putih Kekhalifahan Umayyah

Penulis : Nursyamsi Abdul Hamid- Staff Biro Eksternal

Beliau adalah Khalifah Umar bin Abdul Aziz bin Marwan bin Al-Hakam bin Abu Al-Ash bin Umayyah bin Abd Syams bin Manaf, lahir pada tahun 63 H dan secara silsilah keluarga, beliau merupakan keturunan dari salah satu khulafaur rasyidin, yaitu Umar bin Khattab.

Umar Bin Abdul Aziz diangkat menjadi Khalifah pada dinasti Bani Umayyah, hari Jumat tanggal 10 Shafar tahun 99 Hijriyah, menggantikan khalifah sebelumnya, seluruh hadirin pun serentak menyatakan persetujuannya. Ketika semua hadirin telah memilihnya dan melantiknya, Umar berpidato dengan ucapan yang menggugah. “Taatlah kamu kepadaku selama aku taat kepada Allah. Jika aku durhaka kepada Allah, maka tak ada keharusan bagimu untuk taat kepadaku.”

Sikapnya tak hanya ditunjukkan di mimbar. Beliau justru hidup dalam kezuhudan dan wara’. Suatu ketika beliau disodori kendaraan “dinas” yang supermewah berupa beberapa ekor kuda tunggangan, lengkap dengan kusirnya, khalifah Umar menolak, dan malah menjual semua kendaraan itu, dan uang hasil penjualannya diserahkan ke Baitul Maal. Termasuk semua tenda, permadani dan tempat alas kaki yang biasanya disediakan untuk khalifah yang baru.

Khalifah Umar bin abdul Aziz menyadari dengan baik bahwa beliau tidak mungkin sanggup melakukan perbaikan dalam kehidupan negara yang luas kecuali kalau beliau berani memulai dari dirinya sendiri, kemudian melanjutkannya pada keluarga dan selanjutnya pada keluarga istana yang lebih besar. Maka langkah pertama yang harus beliau lakukan adalah membersihkan dirinya sendiri, keluarga dan istana kerajaan. Dengan tekad itulah beliau memulai sebuah reformasi besar yang abadi dalam sejarah.

Umar bin Abdul Aziz adalah sosok pemimpin yang terlahir di lingkungan istana dan tumbuh sebagai pangeran yang hidupnya serba mewah. Tiba-tiba beliau tinggalkan segala kemewahan dan kekayaannya. Menjadikan gaya hidupnya serta keluarganya yang sebelumnya mewah menjadi sangat sederhana sehingga menyamai rata-rata kehidupan masyarakatnya. Umar juga menyerahkan semua tanah dan harta yang dimilikinya ke baitul mal karena beliau meyakini harta yang diwarisi tersebut bukan haknya tetapi hak rakyat.

Selain itu beliau juga mengatur para penguasa dan pejabat daerah, bersikap netral dan Para gubernur yang zalim dan semena-mena akan langsung dipecat dan beliau benar-benar memilih para gubernur atau pejabat yang dapat memegang amanah dengan baik. Bahkan Khalifah Umar memecat Jarrah bin Abdillah Al-Hukmi yaitu gubernur Khurasan pada masanya, gubernur yang beliau pilih tetapi tidak dapat melaksankan tugas sesuai harapannya. Jarrah bin Abdillah ketahuan memungut jizyah dari para muallaf. Pada masa ini tidak ada Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN) karena Khalifah Umar bin abdul Aziz memilih pejabat sesuai dengan kapabilitasnya. Untuk menghindari para gubernur dari khianat maka para gubernur dinaikkan gajinya sehingga menjadi 3000 dinar.

Langkah selanjutnya yang dilakukan adalah memantapkan sumber pendapatan negara dengan mengandalkan pajak tanah, pajak tanaman, dan pajak lainnya, baik muslim maupun non muslim, pemerintah maupun masyarakat. Umar tidak membedakan muslim ataupun non muslim mereka sama-sama mempunyai kewajiban pajak. Keadaan perekonomian dimasa Khalifah Umar bin abdul Aziz ini telah masuk kedalam taraf yang menakjubkan, bahwa kemiskinan, kemelaratan dan kelaparan diatasi pada masa ini. Sehingga dapat dikatakan bahwa mereka yang ingin mengeluarkan zakat sangat sukar untuk memperoleh orang yang mau menerimanya.

Jumlah pembayar zakat terus meningkat, sementara jumlah penerima zakat terus berkurang, bahkan habis sama sekali. Maka redistribusi kekayaan negara selanjutnya diarahkan kepada subsidi pembayaran utang-utang pribadi (swasta), dan subsidi sosial dalam bentuk pembiayaan kebutuhan dasar yang sebenarnya tidak menjadi tanggungan negara, seperti biaya perkawinan.

Langkah yang telah dilakukan adalah redistribusi kekayaan negara secara adil. Dengan melakukan restrukturisasi organisasi negara, pemangkasan birokrasi, penyederhanaan sistem administrasi, pada dasarnya Umar telah menghemat belanja negara, dan pada waktu yang sama, mensosialisasikan semangat bisnis dan kewirausahaan di tengah masyarakat. Dengan cara begitu Umar memperbesar sumber-sumber pendapatan negara melalui zakat, pajak dan jizyah.

Oleh sebab itu, Umar bin Abdul Aziz kerap disebut sebagai ‘Lembaran Putih’ Kekhalifahan Umayyah. Sebab, kebijakan serta tindak-tanduknya dianggap memberikan efek penting dalam mengembangkan peradaban Islam di dunia. Umar bin Abdul Aziz telah mencatatkan namanya sebagai salah satu tokoh penting dalam sejarah kejayaan perabadan Islam. Ketika memerintah Dinasti Umayyah, beliau menciptakan terobosan dan perubahan yang sangat drastis bila dibandingkan khalifah sebelumnya. Berkat ide dan gagasannya, terutama dalam bidang ekonomi, kesejahteraan dan kemakmuran tersebar secara merata tanpa memandang status sosial tertentu.

Referensi:

http://kisahmuslim.com/1810-umar-bin-abdul-aziz.html

https://www.hidayatullah.com/kajbeliaun/oase-iman/read/2014/10/21/31674/pidato-pertama-umar-bin-abdul-aziz-menangis-karena-takut-pada-allah.html

https://www.rangkumanmakalah.com/khalifah-umar-bin-abdul-aziz/