Konsep Scarcity dalam Ekonomi Islam

Konsep Scarcity Dalam Ekonomi, Benarkah Adanya?

 

Konsep Scarcity dalam Ekonomi Konvensional

Scarcity atau kelangkaan, menurut ilmu ekonomi, mempunyai dua makna, yaitu: pertama,  terbatas dalam arti tidak cukup dibandingkan dengan banyaknya kebutuhan manusia. Kedua yaitu terbatas dalam arti manusia harus melakukan pengorbanan untuk memperolehnya. Inti dari konsep ekonomi konvensional yaitu seseorang itu pasti memiliki kebutuhan atau keinginan yang tidak terbatas sedangkan kebutuhan sumber daya yang dimiliki terbatas sehingga menyebabkan setiap orang harus memilih di antara  pilihan-pilihan yang ada untuk mencapai kepuasan maksimum. Kebebasan yang dimiliki oleh individu dalam memenuhi kebutuhan cenderung mementingkan diri sendiri (selfishness) tanpa peduli kesejahteraan hidup orang lain. Apapun usaha dan kegiatan ekonomi yang dilakukan dalam sistem ekonomi ini, semuanya dilakukan dengan tujuan untuk memperkaya diri sendiri dengan sebebas-bebasnya. Implikasinya yaitu memperlebar  ―gap”  antara  si  kaya  dan  si miskin yang pada gilirannya, akan merusak sendi-sendi kehidupan bermasyarakat.  Seperti berlaku di Indonesia, misalnya, golongan kaya-raya bahkan pada kenyataannya telah menguasai mekanisme penentuan harga di pasar yang secara teori seharusnya terbentuk melalui mekanisme penawaran dan permintaan antara konsumen dan produsen. kebebasan dan keuntungan individu sebagai pendorong lajunya roda perekonomian negara telah mengakibatkan pudar dan bahkan hilangnya nilai-nilai rasionalitas masyarakat dalam membangunan negara, dan bahkan telah menjadikan hawa nafsu sebagai acuan dalam berbagai tindakan mereka

 

Konsep Scarcity dalam Ekonomi Islam

Dalam ekonomi Islam, sumber ekonomi ciptaan Allah yang terdiri dari tanah, buruh, modal dan entrepreneurship itu tidak terbatas jumlahnya. Dengan kata lain, konsep kelangkaan (scarcity) yang ada dalam ekonomi konvensional itu ditolak oleh ekonomi Islam. Kerena kalau kita mengatakan sumberdaya ekonomi itu langka dan terbatas, maka secara tidak langsung kita mengatakan bahwa Allah Yang Maha Perkasa itu lemah dan tidak berdaya. Berikut ini adalah beberapa firman Allah SWT yang menegaskan bahwa Allah telah menciptakan sumberdaya ekonomi yang tidak terbatas baik yang bersumber dari langit, darat, dan bahkan dari lautan untuk digunakan secara optimal dalam membangun ekonomi umat, dapat kita lihat dalam ayat berikut: “…dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya tidak mampulah kamu menghitungnya…” (Q.S. Ibrahim: 34); “Adalah Allah swt yang telah menciptakan langit dan bumi  dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezeki untukmu; dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai“; (Q.S. Ibrahim: 32)

 

Merujuk pada makna ayat-ayat di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa,  sebenarnya, bukanlah sumber daya alam (nikmat) Allah swt yang terbatas, melainkan kemampuan  (ilmu) dan  ketaqwaan  manusialah  yang terbatas untuk  mengekplorasi dan mendistribusikan sumber daya secara optimal dan adil. Penggunaan dan pendistribusian sumberdaya alam secara tidak tepat dan adil oleh manusia yang serakah juga telah menyebabkan sebagian manusia lain untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Pendek kata, Islam tidak mengenal konsep kelangkaan (scarcity) sumber daya alam, yang ada hanyalah terbatasnya kemampuan (ilmu) manusia untuk mengekplorasi sumber  daya alam dan tipisnya kadar keimanan dan tingkat ketaqwaan (ikhtiar/do‘a) umat dalam usahanya untuk membangun ekonomi.

 

Puasa dan Perilaku Konsumen

Ada satu konsep yang menarik bagaimana sebenarnya konsep scarcity itu sebenarnya tidak ada di dalam ekonomi. Rukun Islam yang ketiga yaitu Allah memerintahkan kita untuk berpuasa. Hakikat berpuasa adalah  mengendalikan diri dan hawa nafsu dari segala yang membatalkan niat pahala puasa. Dengan demikian, puasa juga secara substansial bermakna pengendalian diri dari perilaku tercela seperti mubazzir (berlebih-lebihan) dalam konsumsi. Manfaat ibadah puasa yaitu melahirkan sikap hidup sederhana dan efisien dalam konsumsi. Sikap hidup berlebih-lebihan atau mubazir tidak saja bertentangan dengan syariah atau Sunnah Rasulullah tetapi juga menunjukan sikap hidup individualis dan egois. Berpuasa melatih kita untuk menjadi seorang yang Islamic Man yaitu mengajarkan kita untuk tidak berlebihan sehingga keinginan yang tadinya limited menjadi unlimited dan sumber daya menjadi tidak terbatas seperti halnya ekonomi islam yang tidak mengenal konsep scarcity.

 

Dorratul Hikmah Z

Staff Dept. Pendidikan dan Kajian

IBEC FEB UI

 

Referensi :

Majid, Shabri Abdul (2011). Diktat Ekonomi Islam. Answers to Basic Economic Decisions by Different Economic Systems

https://saprinal.wordpress.com/2010/06/11/kelangkaan-dalam-perspektif-islam-dan-sains (diakses 6 November 2016)

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *