Dampak Penerapan Interest-Based System dan Profit-Loss Sharing System terhadap Makroekonomi: Sebuah Komparasi

DAMPAK PENERAPAN INTEREST-BASED SYSTEM DAN PROFIT-LOSS SHARING SYSTEM TERHADAP MAKROEKONOMI: SEBUAH KOMPARASI

Ardhini Risfa Jacinda – Pengurus Inti (Sekretaris Umum)

Pendahuluan

Perbedaan sistem dalam pelaksanaan perbankan konvensional dan perbankan Islam tentunya memberikan dampak yang berbeda pula baik dari sisi mikroekonomi maupun dari sisi makroekonomi. Dampak dari sistem perbankan konvensional yang berbasis pada bunga dan sistem perbankan Islam yang berbasis pada sistem bagi hasil terhadap pemilik modal atau investor dan pengusaha juga akan jauh berbeda.

Dampak mikro yang dialami oleh pemilik modal maupun investor ialah terkait dengan resiko, profit dan return atas usaha atau investasi, insentif, bahkan perilaku dari keduanya dalam menjadi pelaku ekonomi. Dampak mikro tersebut kemudian dapat berdampak pada makroekonomi yang terkait dengan stabilitas keuangan, pasar barang atau jasa, pasar tenaga kerja hingga masalah moneter yang cukup signifikan sehingga perlu dikaji lebih lanjut untuk dapat menjadi pelajaran ataupun alat untuk mengantisipasi terjadinya permasalahan – permasalahan yang tidak diinginkan dalam menjalankan dan mengembangkan industri perbankan terutama di Indonesia. Esai ini akan mencoba untuk menjelaskan bagaimana kedua sistem tersebut dapat memberikan pengaruh yang signifikan terhadap perekonomian secara makro

Pembahasan

Perbankan konvensional yang menggunakan sistem bunga merupakan bentuk perbankan yang umum digunakan di hampir semua negara di dunia baik negara muslim maupun negara non-muslim. Terbentuknya perbankan konvensional yang sudah berabad – abad yang lalu membuat konsep dan kerangka perbankan konvensional jauh lebih matang dibandingkan dengan konsep dan kerangka perbankan Islam. Hal tersebut merupakan hal yang wajar karena perbankan konvensional telah mengalami berbagai tantangan dan perbaikan serta pengembangan sehingga konsep dan kerangkanya menjadi lebih sempurna. Sedangkan perbankan Islam yang baru beberapa tahun terakhir ini dikembangkan masih mencari – cari konsep dan kerangka yang sesuai dengan tujuan dan prinsip Islam namun juga mudah diterima secara universal.

Sehingga, dalam pelaksanaannya perbankan Islam masih seringkali menjadikan perbankan konvensional sebagai acuannya, mulai dari pembentukan atau penciptaan produk – produk perbankan, menentukan tingkat bagi hasil, hingga dalam mengejar pangsa pasar. Meskipun begitu, pertumbuhan perbankan Islam dapat dikatakan cukup pesat. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statikstik (BPS) pertumbuhan perbankan Islam di tahun 2017 mencapai 15% dimana angka tersebut hampir dua kali lipat dari pertumbuhan perbankan konvensional yang hanya di angka 8%. Dengan pertumbuhan yang cukup pesat tersebut, market share perbankan Islam kini telah mencapai 5,4% dengan total aset senilai Rp 388.481 miliyar.

Ekonomi Islam yang dibentuk dan dikembangkan berdasarkan prinsip – prinsip Islam dan berpedoman kepada Al-Quran dan Hadist tentunya juga harus menjadi acuan dalam pembentukan dan pelaksanaan perbankan Islam yang merupakan produk dan alat untuk mencapai tujuan dari Ekonomi Islam itu sendiri. Tujuan dari Ekonomi Islam ialah agar dapat menyelesaikan permasalahan ekonomi dan mencapai kesejahteraan di dunia dan juga di akhirat. Oleh sebab itu, prinsip – prinsip perbankan Islam juga berasal dari pedoman dan tujuan dari Ekonomi Islam yang ditetapkan sebagai sistem bagi hasil sebagai bentuk koreksi dari sistem bunga di perbankan konvensional yang tidak sesuai dengan prinsip – prinsip Islam.

Namun, dalam pelaksanaannya, sistem bagi hasil yang dijalankan oleh perbankan Islam tidak hanya memberikan dampak terhadap perkembangan dari Ekonomi Islam saja namun juga berdampak pada perekonomian dimana sistem perbankan Islam tersebut dijalankan, baik di negara yang menggunakan sistem ekonomi Islam secara penuh, sebagian maupun negara – negara yang tidak menggunakan prinsip – prinsip ekonomi Islam sama sekali. Dampak yang dirasakan juga memiliki cakupan yang cukup luas yang mana berawal dari dampak pada mikroekonomi terkait dengan konsumsi, produksi dan tabungan pelaku ekonomi yang terlibat dalam perbankan Islam, hingga pada makroekonomi yang berkaitan dengan stabilitas keuangan, stabilitas ekonomi, pasar tenaga kerja hingga inflasi.

Dalam mikroekonomi, dampak yang terjadi dirasakan baik oleh pengusaha sebagai pengguna dana atau pembiayaan dari perbankan Islam maupun  pemilik modal atau investor yakni perbankan Islam atau nasabah perbankan Islam itu sendiri. Dari sisi pengusaha, sistem bagi hasil di dalam perbankan Islam menjadi insentif tersendiri untuk mengembangkan usahanya. Hal ini dikarenakan sistem bagi hasil yang berupa rasio yang disepakati oleh kedua belah pihak dan memiliki jumlah atau besaran yang berdasarkan return atau profit yang didapatkan membuat cost of fund atau biaya untuk mendanai usahanya sesuai dengan willingness to pay pengusaha tersebut.

Sumber: Materi Kuliah 11 Ekonomi Keuangan Islam Lanjutan

Berbeda dengan sistem bunga yang ditawarkan oleh perbankan konvensional yang menetapkan tingkat suku bunga yang tetap dan jumlah yang tetap berdasarkan jumlah pembiayaan yang diberikan. Dengan sistem bunga tersebut, pengusaha menjadi tidak dapat menentukan cost of fund yang diinginkannya atau yang sesuai dengan kemampuannya. Kemudian, apabila pengusaha sedang mengalami penurunan profit, ia tetap harus membayar bunga atau cost of fund atas pembiayaannya kepada investor atau bank konvensional dengan jumlah yang tetap. Hal tersebut membuat pengusaha harus menggunakan dana pribadinya untuk dapat menutupi kekurangan biaya cost of fund yang lebih mahal dari profit yang didapatkannya saat itu. Sehingga, tingkat konsumsi dan tingkat tabungan pengusaha dari sisi individu dapat menjadi turun.

Namun hal tersebut tidak akan terjadi di sistem bagi hasil di dalam perbankan Islam. Hal ini dikarenakan cost of fund yang ditanggung oleh pengusaha akan mengikuti tingkat profit yang ia dapatkan. Dimana apabila profit pengusaha tersebut sedang naik, maka nilai cost of fund yang harus dibayarkan juga meningkat, dan sebaliknya apabila profit pengusaha tersebut sedang turun, maka cost of fund yang harus dibayarkan juga akan turun. Sehingga tidak akan mempengaruhi tingkat konsumsi dan tingkat tabungan pengusaha secara individu.

Dampak di dalam mikroekonomi tersebut kemudian menjalar ke permasalahan di makroekonomi. Berdasarkan teori dan model yang diciptakan oleh Khan dalam tulisannya yang berjudul “Theoretical Description of the Islamic Banking System by Formulating A Relatively Simple Model that Explicitly Incorporates the Constraints Imposed by Religion on The Conduct of Financial Transaction” (1986), sistem ekonomi Islam terbukti lebih mudah menyesuaikan dan beradaptasi ketika dalam kondisi shock. Hal ini dapat terjadi karena dampak dari shock dapat terserap baik melalui meningkatnya tingkat deposito di bank yang membuat nilai asset dan liabilities di perbankan Islam tetap seimbang.

Di dalam sistem perbankan konvensional yang menggunakan sistem bunga yang tetap, ketika kondisi ekonomi atau iklim bisnis sedang tidak baik maka seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, cost of fund yang ditanggung oleh pengusaha akan relatif lebih tinggi karena pengusaha mengalami penurunan profit. Sementara peningkatan beban atas kondisi tersebut tidak dialami oleh pemilik modal atau investor karena ia mendapatkan bunga yang tetap, kecuali apabila terjadi gagal bayar atau default.

Namun bagaimanapun, pengusaha akan tetap berusaha dapat membayar cicilan dan bunga pembiayaan tersebut agar tetap mendapat kepercayaan dari investor atau pemilik modal dan agar agunan yang diagunkan tidak hilang. Sehingga pilihan yang dimiliki oleh pengusaha ialah mengurangi biaya produksinya seperti dengan mengurangi kualitas atau kuantitas produksi, pengurangan tenaga kerja atau dengan mencari sumber pembiayaan lain dengan sistem bunga yang tentunya juga berkemungkinan untuk semakin memberatkan pengusaha di kemudian hari. Dampaknya pada makroekonomi ialah shortage of supply akibat pengurangan kuantitas produksi, kenaikan harga, dan meningkatnya angka pengangguran karena pengurangan tenaga kerja.

Selain itu, apabila terjadi shock yang menyebabkan pada krisis finansial, seringkali yang terjadi ialah turunnya kepercayaan masyarakat terhadap bank yang akan mendorong nasabah untuk menarik simpanannya di bank (rush money), sehingga bank mengalami masalah likuiditas. Hal tersebut akan memperparah kondisi karena shock yang terjadi juga telah membuat bank konvensional krisis akan likuiditas akibat banyaknya non-performing loan dan default karena shock tersebut.

Shock dan krisis keuangan tersebut membuat tingkat resiko usaha dan resiko kredit meningkat. Akibatnya, tingkat suku bunga bank konvensional -yang linear dengan tingkat resiko usaha dan tingkat resiko kredit- akan semakin melambung. Walaupun meningkatnya tingkat suku bunga tersebut akan membuat tingkat suku bunga domestik menjadi lebih tinggi dari tingkat suku bunga dunia, namun hal tersebut tetap sulit untuk membuat capital inflow meningkat dan bahkan dapat membuat capital inflow turun. Sehingga negara menjadi sulit mendapatkan sumber pembiayaan tambahan. Hal ini dikarenakan, naiknya tingkat suku bunga juga diiringi dengan naiknya resiko kredit domestik yang membuat real interest rate turun (real interest rate = tingkat suku bunga domestik + resiko kredit domestik).

Ketika terjadi shock, pelaku bisnis akan semakin terbebani oleh bunga dengan rate yang tetap yang harus dibayarkan kepada investor atau pemilik modal. Sehingga, pelaku bisnis yang tidak dapat bertahan akan keluar dari pasar karena tidak mampu mengatasi kegagalan bisnis dan beban bunga yang harus ditanggungnya. Satu – satunya jalan ialah dengan mencari pembiayaan dari bank lain. Namun, masalah baru muncul yaitu semakin meningkatnya tingkat suku bunga yang disebabkan oleh tingginya resiko kredit yang meningkat akibat kondisi ekonomi yang sedang buruk dan krisis likuiditas. Akibatnya, untuk dapat tetap bertahan, pelaku bisnis harus bekerja semakin berat agar dapat memproduksi lebih banyak dan menghasilkan profit yang lebih banyak sehingga beban hutang dan bunga yang tinggi dapat dibayarkan.

Namun, hal tersebut sulit dicapai apabila pelaku bisnis atau produsen tidak meningkatkan harga hasil produksinya. Hal ini terjadi karena biaya produksi yang ditanggung oleh produsen meningkat seiring dengan meningkatnya cost of fund yang disebabkan oleh meningkatnya tingkat suku bunga pembiayaan. Meningkatnya cost of fund tersebut tentunya akan meningkatkan total biaya produksi yang harus diperhitungkan oleh produsen dalam menetapkan harga. Naiknya harga yang ditawarkan oleh produsen kepada konsumen tersebut kemudian akan menambah masalah baru lagi di masyarakat yakni kenaikan harga – harang barang yang dapat mendorong terjadinya inflasi.

Apabila hal tersebut terjadi, maka inflasi dan juga krisis keuangan akan berdampak pada pasar tenaga kerja. Dari pihak produsen yang berperan dalam mempengaruhi demand of labor, akan membuat kurva demand of labor bergeser ke kiri, karena biaya produksi yang meningkat sementara permintaan atas barang turun. Sehingga, produsen harus mengurangi jumlah pekerjanya yang kemudian akan meningkatkan angka pengangguran. Bergesernya kurva demand of labor juga dapat membuat upah tenaga kerja menjadi turun. Sementara dari pihak konsumen yang berperan dalam mempengaruhi supply of labor, akibat dari meningkatnya kebutuhan biaya hidup yang disebabkan kenaikan harga 0 harga barang konsumsi, konsumen yang berperan dalam mempengaruhi supply of labor akan membuat kurva supply of labor bergeser ke kanan yang menunjukan adanya kenaikan atas tenaga kerja yang ditawarkan dan kenaikan permintaan upah. Sehingga akan terjadi mismatch dalam pasar tenaga kerja karena kurva demand of labor dan supply of labor tidak menemui titik ekuilibrium.

Namun hal tersebut tidak akan terjadi pada perbankan Islam yang menerapkan sistem profit-loss sharing (PLS). Sistem PLS dapat membuat kondisi bisnis dan kondisi keuangan baik secara mikro maupun makro menjadi lebih stabil dan lebih adaptif terhadap shock. Dengan sistem profit-loss sharing, apabila terjadi shock yang menyebabkan kegagalan dalam aktivitas ekonomi dan bisnis, yang akan menanggung resiko tersebut tidak hanya pelaku bisnis, namun juga investor atau pemilik modal. Sehingga dapat meminimalisir gap likuiditas yang dimiliki oleh pihak pelaku bisnis dan likuiditas yang dimiliki oleh investor.

Selain itu, dengan adanya sistem profit-loss sharing, tidak akan membuat kondisi krisis keuangan semakin buruk. Karena seiring dengan berjalannya waktu, kondisi perekonomian akan membaik dan tumbuh dari meningkatnya hasil produksi di sektor riil yang membuat nilai bagi hasil antara produsen dan investor juga meningkat, bukan dari bunga pinjaman yang hanya akan menciptakan money creation yang dapat berdampak pada inflasi seperti di sistem ekonomi konvensional. Dengan tumbuhnya perekonomian yang pada sektor rill, tentunya kan mempengaruhi kondisi makro secara menyeluruh baik yang terkait dengan tingkat konsumsi agregat, tingkat tabungan agregat, inflasi maupun di pasar tenaga kerja.

Dari segi konsumsi agregat, ketika perekonomian yang menjalankan sistem ekonomi Islam dengan sistem profit-loss sharing sedang mengalami shock, maka penurunan tingkat konsumsi hanya disebabkan oleh turunnya daya beli akibat shock tersebut, tidak dipengaruhi karena adanya kenaikan harga – harga barang konsumsi yang disebabkan oleh inflasi. Hal ini dikarenakan, shock yang terjadi tidak membuat tingkat bagi hasil yang menjadi cost of fund produsen meningkat layaknya fixed rate di sistem ekonomi konvensioanl, karena yang menjadi cost of fund produsen ialah persentase bagi hasil yang telah ditetapkan, sehingga beban cost of fund tersebut akan menyesuaikan nilai keuntungan atau profit yang didapatkan oleh produsen.

Dari sisi pasar tenaga kerja, shock yang terjadi juga tidak memperburuk kondisi pasar tenaga kerja akibat mismatch antara demand of labor dan supply of labor yang terjadi karena produsen harus menanggung kenaikan biaya produksi dan penurunan permintaan barang yang diproduksinya akibat dari cost of fund karena sistem bunga di sistem ekonomi konvensional. Sehingga, permasalahan di pasar tenaga kerja yakni meningkatnya tingkat pengangguran dapat diminimalisir.

Kesimpulan

Sistem ekonomi Islam, walaupun belum memiliki konsep dan kerangka sematang sistem ekonomi konvensional, namun telah memiliki dampak yang signifikan terhadap perekonomian baik secara makro maupun secara mikro, sekalipun di negara – negara yang tidak menggunakan sistem ekonomi Islam sebagai acuan utamanya dalam menjalankan perekonomian. Cohtoh konkritnya ialah Indonesia. Indonesia yang baru memulai untuk menerapkan sistem ekonomi Islam sudah merasakan dampak positifnya dari sistem perbankan Islam yang menggunakan sistem profit-loss sharing. Sistem profit-loss sharing yang diterapkan dapat membawa dampak ekonomi dari berbagai aspek dan sisi mulai dari konsumen, produsen, inflasi bahkan hingga ke pasar tenaga kerja. Apabila market share perbankan syariah dan institusi keuangan ekonomi Islam lainnya dapat terus dipertahankan dan dikembangkan, maka dapat menyempurnakan sistem ekonomi Indoesia dan dapat menjaga kestabilan ekonomi secara makro dan menyeluruh.

Referensi

Aggarwal, Rajesh K and Tarik Yousef, “Islamic Banks and Investment Financing”, Journal of Money, Credit and Banking., Vol. 32. No. 1, 2000, pp. 93-120.

Zangeneh, Hamid. A Macroeconomic Model of an Interest-free System. 1995. The Pakistan Development Review, Vol. 34, No. 1 (Spring 1995), pp. 55-68. Pakistan Institute of Development Economics

Valibei, Mehrdad. Islamic Economics and Economic Policy Formation in Post-Revolutionary Iran: A Critique. 1993. Journal of Economic Issues, Vol. 27, No. 3 (Sep., 1993), pp. 793-812. Taylor & Francis, Ltd.

Kuliah 11 Ekonomi Keuangan Islam Lanjutan

Statistik Perbankan Syariah Maret 2018. Otoritas Jasa Keuangan

Indonesia Sharia Economic Outlook 2018. Pusat Ekonomi dan Bisnis Syariah FEB UI

Badan Pusat Statistik