Faktor Pendukung dan Kesadaran Masyarakat Indonesia akan Ekonomi Islam

FAKTOR PENDUKUNG DAN KESADARAN MASYARAKAT INDONESIA AKAN EKONOMI ISLAM
M. Aditya Nugroho
Wakil Kepala Biro Internal IBEC FEB UI 2018

            Perkembangan ekonomi Islam di Indonesia dalam dua dekade terakhir dapat dikatakan cukup baik dan menggembirakan, walaupun secara data Indonesia masih di bawah dari Malaysia. Namun terlepas dari itu, kita harus mengapresiasikan upaya berbagai pihak yang terus mendorong perkembangan ekonomi Islam di Indonesia sejak berdirinya Bank Muamalat yang ditandai sebagai lahirnya ekonomi Islam di Indonesia.

Di samping mengapresiasi kinerja setiap stakeholder  yang turut membantu perkembangan ekonomi Islam di Indonesia, kita juga harus mengetahui berbagai faktor yang menjadi pendukung perkembangan ekonomi Islam di Indonesia, yang juga dapat menjadikan prospek ekonomi Islam kedepannya.

Faktor Pendukung

  1. Kebutuhan Jasa Perbankan yang Tidak Berbasis Bunga

Harus diakui bahwa hampir seluruh masyarakat di zaman sekarang ini benar-benar membutuhkan jasa perbankan yang berfungsi untuk menyimpan uang, mentransfer uang, pembiayaan, dan lain sebagainya. Akan tetapi, sebagian masyarakat pengguna jasa perbankan tidak setuju atau menyukai sistem bunga dalam perbankan. Maka dari itu, perbankan yang berbasis bunga dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan dan aturan syariah. Terdapat bank yang berdiri murni sebagai bank Syariah, dan ada pula bank konvensional yang juga menyediakan jasa perbankan syariah, contohnya Bank Mandiri Syariah.

  1. Pembiayaan Berbasis Kemitraan

Dalam perbankan konvensional, sistem pembiayaan bersifat hubungan debitur dan kreditur. Debitur diwajibkan mengembalikan modal yang ia pinjam dari kreditur dengan bunga, baik dalam keadaan untung maupun rugi. Dalam sistem perbankan Islam yang ideal memiliki prinsip atau sistem yang berbeda dalam pembiayaan. Dalam sistem perbankan Islam, dikenal dengan kemitraan atau lebih populer sebagai bagi hasil, yang penentuan pembagiannya berdasarkan margin atau persentase, bukan bunga yang diwajibkan. Baik untung maupun rugi, kesepakatan pembagian untung atau rugi ditetapkan di awal oleh pemilik modal (pemberi modal) dengan pelaku usaha atau istilahnya dikenal sebagai shohibul Maal dan Mudharib. Dalam perbankan Islam, hal ini tidak hanya berlaku bagi pembiayaan usaha seperti contoh di atas, namun juga berlaku bagi leasing, simpanan, jual-beli, dan sebagainya.

  1. Perkembangan Bank Syariah dan Institusi Keuangan Non-Bank Syariah di Indonesia

Hingga April 2016, tercatat jumlah bank Syariah di Indonesia mencapai 199 bank, terdiri dari 12 Bank Umum Syariah (BUS), 22 Unit Usaha Syariah (UUS), dan 165 Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS). Jumlah tersebut bertambah hingga saat ini, dan diprediksi akan terus bertambah kedepannya sesuai dengan kebutuhan masyarakat akan bank syariah.

  1. Sumber Daya Manusia Masa Depan

Sumber daya manusia dalam sektor perekonomian berbasis Syariah diharapkan akan bertumbuh seiring dengan banyaknya program pendidikan (jurusan) Ilmu Ekonomi Islam ataupun Bisnis Islam Strata 1 di berbagai universitas ternama di Indonesia. Sebut saja Universitas Indonesia, Universitas Padjajaran, Universitas Airlangga, dan sebagainya. Di dalam prodi berbasis ekonomi Syariah dalam universitas-universitas tersebut juga diajarkan ekonomi islam secara ilmiah seperti pada ilmu ekonomi pada umumnya, tujuannya agar ekonomi Islam dapat bersaing secara ilmiah dan mendapat pengakuan lebih luas lagi, bukan hanya doktrin belaka.

  1. Regulasi dan Peran Pemerintah

Telah lahirnya Undang-undang No. 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah. Isinya antara lain tentang keharusan melepas (spin off) divisi syariah dalam 15 tahun, atau ketika pangsa pasar syariah mencapai 50%. Selain itu, perkembangan sukuk di Indonesia ditandai dengan diterbitkanya Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) atau sukuk pada Agustus 2008;

Prospek dan Kesadaran Masyarakat

Prospek perkembangan ekonomi Islam di Indonesia dapat dikatakan sangat baik. Hal ini ditandai dengan pertumbuhan jumlah institusi keuangan syariah. Selain perkembangan institusi keuangannya, jumlah nasabah pada bank Syariah telah mencapai 22 juta nasabah menurut OJK pada Oktober 2017. Pertumbuhan jumlah nasabah bank Syariah ini juga menandakan meningkatnya kebutuhan masyarakat akan institusi keuangan yang berbasis syariah dan terhindar dari hal-hal yang dilarang oleh syara. Menurut mantan Deputi Gubernur Bank Indonesia, Siti CH Fadjrijah, pertumbuhan industri perbankan syariah terbilang sangat fantastis meski ada sejumlah kendala utama. Perbankan syariah tumbuh rata-rata 30%-40%, jauh lebih tinggi ketimbang pertumbuhan perbankan konvensional yang sekitar 12%. Hal tersebut dapat berkembang lagi dengan adanya proyek-proyek pembiayaan terutama dalam bidang infrastruktur seperti jalan tol contohnya.

Meningkatnya jumlah minat terhadap program pendidikan berbasis ekonomi Islam di universitas-universitas di Indonesia. Sekitar kurang lebih 31 universitas, baik negeri maupun swasta, memiliki prodi ekonomi berbasis Islam. Hal tersebut jua menandakan berkembangnya ekonomi Islam secara pendidikan. Begitupun dengan jumlah pendaftar pada prodi tersebut. menurut data dari simak.ui.ac.id, pada tahun 2016, jumlah pendaftar sebanyak 1110, sedangkan tahun 2017, jumlah pendaftar meningkat menjadi 1266 pendaftar.

Perkembangan ekonomi Islam juga terlihat di Jawa Barat. Menurut Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jawa Barat, Wiwiek Sisto Widayat, pertumbuhan pada tahun 2017 mencapai 8,4 persen, melampui rata-rata nasional sebesar 5,9 persen. Menurutnya, potensi tersebut dapat digali lagi karena lebih dari 41 juta masyarakat Jawa Barat beragama Islam. Pada Februari 2018, menurut OJK, jumlah aset bank Syariah tumbuh sebesar 20,65 persen, dengan angka sebesar Rp 429,36 triliun. Menurut Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso, Pertumbuhan ini didukung oleh permodalan syariah yang tergolong baik, tercermin rasio CAR umum syariah sebesar 18,62% dan nonperforming financing pada Februari 2018 sebesar 4,31% masih terjaga di bawah threshold 5%.

Sebagai Penutup, faktor-faktor di atas patut kita syukuri karena perlahan-lahan ekonomi Islam mengalami pertumbuhan yang cukup pesat di Indonesia. Selain mensyukuri, kita tentunya juga harus mengapresiasi setiap orang ataupun faktor yang turut membantu pertumbuhan ekonomi Islam mulai dari perbankan, program pendidikan, dan sebagainya, hingga sampai saat ini. Terakhir, sebagai mahasiswa, tentunya juga harus berperan aktif dalam menyumbangkan pemikirannya dan kepekaannya terhadap dunia ekonomi Islam agar dapat lebih berkembang kedepannya.

 

Referensi:

Alamsyah, Halim. 2015. Perkembangan dan Prospek Perbankan Syariah Indonesia: Tantangan Dalam Menyongsong MEA 2015. Jakarta: IAEI

Gustani. 2016. “Daftar Lengkap Bank Syariah di Indonesia”. 17 Juli 2018 (19.54). http://akuntansikeuangan.com/daftar-lengkap-bank-syariah/

http://simak.ui.ac.id/reguler.html

https://www.youthmanual.com/cari-jurusan/ekonomi-bisnis/ekonomi-islam-ekonomi-syariah-

Sitanggang. 2018. “OJK: Aset bank syariah tumbuh 20,65% per Februari 2018” 17 Juli 2018 (20.08). https://keuangan.kontan.co.id/news/ojk-aset-bank-syariah-tumbuh-2065-per-februari-2018

Win. 2017. “Faktor Pendukung Ekonomi Syariah”. 17 Juli 2018 (20.04). https://jabartoday.com/ekonomi/2017/09/15/2224/29379/ini-yang-jadi-faktor-pendukung-ekonomi-syariah