Islamic Finance: an Unexpected Escalator for Economic Growth

Oleh Muhammad Pandu Rizky B. (Bisnis Islam 2018), Kepala Departemen Penelitian IBEC FEB UI 2020

 

            Pengembangan sistem keuangan telah menjadi perbincangan yang hangat beberapa tahun terakhir terutama dengan kaitannya terhadap pertumbuhan ekonomi suatu negara. Penelitian demi penelitian pun mulai muncul untuk mencari hubungan antara kedua hal ini demi pengembangan selanjutnya. McKinnon (1973) dan Shaw (1973) telah melakukan riset mengenai hubungan kedua hal ini dan menghasilkan temuan mengenai pentingnya liberalisasi sistem keuangan untuk meningkatkan simpanan domestik dan investasi di suatu negara. Selanjutnya Sala-I-Martin (1992) dan King dan Levine (1993), menemukan bahwa sektor keuangan mempunyai peran penting dalam efektifitas pengalokasian sumber daya keuangan kepada sektor yang paling membutuhkan, sehingga berpengengaruh terhadap produktivitas dan pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.

            Pada penelitian kali ini, peneliti berusaha untuk mencari tahu pengaruh yang dapat ditimbulkan oleh keuangan Islam di negara-negara Gulf Cooperation Council (GCC) yang terdiri atas Saudi, Kuwait, Qatar, UEA, Bahrain, dan Oman. Negara GCC sendiri telah mendapatkan pencapaian-pencapaian yang baik. Selama tiga dekade kebelakang, negara GCC mampu meraih pertumbuhan ekonomi diatas empat persen. Selain pencapaian dalam pertumbuhan ekonomi, perkembangan keuangan Islam di negara GCC juga dinilai mempunyai pencapaian yang baik. Menurut International Monetary Fund (IMF), pada 2008, aset bank Islam di Saudi adalah sebesar 35 persen, di Bahrain 29,9 persen, di Kuwait sebesar 29 persen, di UEA sebesar 13,5 persen, dan di Qatar sebesar 11,5 persen. Hal ini menunjukan bahwa keuangan Islam terbilang kompetitif dalam sektor keuangan di negara GCC secara keseluruhan. Pencapaian yang baik dalam pertumbuhan ekonomi dan sektor keuangan Islam ini lah yang membuat peneliti tertarik untuk melihat hubungan antara perkembangan keuangan Islam dengan pertumbuhan ekonomi.

 

Tinjauan Literatur

 

  1. Pengembangan Sistem Keuangan Dengan Pertumbuhan Ekonomi

            Salah satu langkah yang menjadi awal dari investigasi hubungan antara keuangan dan pertumbuhan adalah yang dilakukan oleh Goldsmith (1969) yang mana melahirkan konklusi bahwa pengembangan sistem keuangan mempunyai pengaruh positif terhadap pertumbuhan ekonomi. Selanjutnya, King dan Levine (1993a) juga menemukan bahwa sektor keuangan berpengaruh terhadap pertumbuhan yang mana mendukung pandangan Schumpeterian. Penelitian selanjutnya oleh King dan Levine (1993b) juga memperkuat hasil penelitian mereka sebelumnya dengan menghasilkan temuan bahwa pengembangan sistem keuangan mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

            Selanjutnya, Kar et al (2011) melakukan observasi terhadap hubungan sistem keuangan dengan pertumbuhan ekonomi di negara-negara MENA. Dengan menggunakan sampel 15 negara MENA pada tahun 1980-2007, observasi ini menemukan bahwa tidak ada hubungan yang spesifik terhadap pengembangan sistem keuangan dengan pertumbuhan ekonomi. Sebagai penguat, observasi ini juga menggunakan variabel perkembangan keuangan pada negara spesifik. Hasan (2009) melakukan penelitian empiris untuk melihat peran institusi resmi, penguatan sistem keuangan dan pluralisme politik terhadap pertumbuhan ekonomi di Cina. Penelitian ini menemukan bahwa ketika pasar modal, hukum terkait, pengetahuan akan hak properti, dan pluralisme politik berhubungan positif dengan pertumbuhan ekonomi, pinjaman bank tidak berpengaruh bahkan beberapa kali berhubungan negatif dengan pertumbuhan ekonomi. Thangavelu dan James (2004) melakukan penelitian mengenai pengembangan sektor keuangan terkait sistem bank-based dan market-based pada struktur finansial dengan pertumbuhan ekonomi di Australia, dan menghasilkan penemuan bahwa sistem market-based mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi di Australia.

     2. Keuangan Islam dan Pertumbuhan Ekonomi

            Dalam penelitiannya, Ahmed (2005) menghasilkan anjuran untuk tidak menggunakan kontrak utang dan kontrak sewa dalam modal kerja dan untuk mengatasi permasalahan perbedaan faktor pertumbuhan dalam keuangan, perlu adanya peningkatan model operasional dalam keuangan itu sendiri. Al-Hallaq (2005) dalam investigasinya untuk menemukan hubungan antara keuangan Islam dengan pertumbuhan ekonomi menghasilkan temuan bahwa keuangan Islam mempunyai hubungan positif namun tidak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi. Yang terbaru, Furqani dan Mulyany (2009) mencoba untuk menentukan interaksi antara bank Islam dengan pertumbuhan ekonomi di Malaysia dari tahun 1997 sampai 2005. Penelitian ini menghasilkan temuan bahwa bank Islam mempunyai relasi positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi dan akumulasi modal di Malaysia. Meski banyak penelitian yang mengungkapkan pengaruh positif keuangan Islam dengan pertumbuhan ekonomi, Goaied dan Sassi (2010) menemukan bahwa keuangan Islam tidak berkontribusi  terhadap pertumbuhan ekonomi dengan sampel negara-negara MENA.

 

Keuangan Islam di Negara-negara GCC

            Industri keuangan Islam di negara GCC sudah mulai berkembang sejak tahun 1973, dimana bank Islam pertamanya adalah Dubai Islamic Bank (1975) dan Kuwait Finance House (1975). Sampai hari ini, kawasan GCC sendiri dipercayai menjadi kawasan yang perkembangan keuangan Islam pada negara-negaranya paling maju dibanding negara-negara Islam lainnya. hal ini beralasan karena negara-negara GCC mempunyai sektor perbankan Islam yang luas, pasar sekuritas Islam (sukuk) yang berkembang dengan baik, dan perasuransian Islam (takaful) yang sudah maju dan dapat bersaing dengan instrumen keuangan konvensional lainnya.

            Pencapaian selanjutnya adalah 42,9 persen total agregat dari keuangan Islam global pada akhir 2009 adalah milik negara-negara GCC, dimana institusi di Arab Saudi mempunyai share sebesar 36,2 persen, kemudian institusi di UEA sebesar 23,8 persen dari total aset keuangan Islam di negara GCC (USD 84 miliar), Kuwait sebesar 19,1 persen (USD 67,6 miliar), Bahrain sebesar 13 persen (USD 46,2 miliar), dan Qatar sebesar 7,8 persen (USD 27,5 miliar). Berdasarkan data dari IMF, selama periode 2002 sampai 2008, Gulf Islamic Bank mempunyai 23,8 persen dari total aset perbankan, dan pertumbuhan dari aset perbankan Islam mencapai lebih dari 44 persen.

 

Data dan Metodologi

            Berdasarkan Hipotesis yang sudah ditentukan di awal, yakni:

H1. Pengembangan sistem keuangan  mempunyai peran terhadap pertumbuhan ekonomi di kelompok negara GCC.

H2. Keuangan konvensional mempunyai relasi positif dengan pertumbuhan ekonomi di    negara-negara GCC.

H3. Keuangan Islam mempunyai relasi positif terhadap pertumbuhan ekonomi di negara-negara GCC.

 

Menghasilkan formula seperti berikut:

            Dimana GROWTHit adalah variabel dependen yang merepresentasikan pertumbuhan PDB perkapita. FDitmengandung variabel yang memperhitungkan perkembangan sistem keuangan dan Zit menggambarkan matriks dari variabel kontrol. Sedangkan ai adalah efek dari negara spesifik yang belum terobservasi dan eit adalah kemungkinan eror yang dapat terjadi dalam observasi.

            Dalam observasi ini, peneliti menggunakan beberapa data untuk menjadi dasar perhitungan. Dalam perhitungan indikator perkembangan sektor keuangan, peneliti menggunakan 3 variabel, yaitu kredit privat (kredit perbankan dibagi PDB) sebagai pengukur aktivitas lembaga intermediasi keuangan, Deposit Money Banks (DEPO) (total aset deposit bank dibagi PDB) sebagai pengukur skala keseluruhan dari sektor perbankan, dan jumlah sukuk yang dikeluarkan (total sukuk dibagi rasio PDB).

            Gambar 1 dan 2 menyatakan perkembangan sektor keuangan di kelima negara GCC periode 1996-2011. Dari kedua data dibawah, sejak kredit dan deposito perbankan konvensional mulai berkembang dari tahun 2002, dapat dilihat bahwa terjadi penurunan yang signifikan terhadap DEPO (gambar 2 grafik ungu) dan kredit privat (gambar 3 grafik ungu) yang mana menggambarkan penurunan skala keseluruhan dari sektor perbankan konvensional dan aktivitas lembaga keuangan konvensional. Berkebalikan, dilihat dari gambar 2 dan 3 di grafik kuning, perbankan Islam justru mengalami peningkatan sejak tahun 2002 yang mana menunjukan bahwa skala keseluruhan sektor perbankan Islam dan aktivitas lembaga intermediasi keuangan Islam meningkat. Jika kita teliti lagi perkembangan bank Islam lewat gambar 4 dan 5, terlihat bahwa nampaknya negara Bahrain memiliki perkembangan sektor keuangan Islam yang paling menonjol.

 

 

 

 

 

           Faktor-faktor lain juga dapat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi sehingga perlu pula untuk masuk dalam perhitungan, antara lain:

  1. Initial Level of Development (IIC)

Menggambarkan pendapatan per-kapita, yang mana memberikan bukti mengenai adanya convergence effect (catch-up effect).

  1. Trade Openness (TO)Unexpected Escalator for Economic Growth

Keterbukaan terhadap perdagangan internasional tentu saja sudah terbukti sebagai salah satu indikator pertumbuhan ekonomi (Grossman dan Helpman (1992) dan Harrison (1996)). Maka dari itu, peneliti memperkirakan bahwa TO berhubungan positif dengan pertumbuhan ekonomi.

  1. Secondary School Enrollments (SSCE)

Menggambarkan tingkat kualitas dari sumber daya manusia, dimana kualitas SDM berhubungan positif dengan pertumbuhan ekonomi.

  1. Government Consumption (GC)

Tingkat GC diperhitungkan melalui GC dibagi dengan PDB. GC menggambarkan tingkat korupsi dalam pemerintahan yang mana menjadi efek langsung terhadap pengeluaran non-produktif dan perpajakan (Cook dan Uchida (2003)). Peneliti memperkirakan hubungan negatif antara GC dengan pertumbuhan ekonomi.

 

Hasil Empiris

            Pada tabel III menunjukan hasil dari perhitungan dampak perkembangan sistem keuangan dengan pertumbuhan ekonomi menggunakan teknik OLS, panel data (model FE dan RE), dan GLS, dimana menghasilkan temuan bahwa sistem keuangan secara keseluruhan tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi di negara-negara GCC. Penemuan ini menunjukan inkonsistensi terhadap temuan sebelumnya yang menyatakan bahwa sektor keuangan berperan untuk mempermudah arus informasi dan transaksi sekaligus membuat alokasi sumber daya keuangan lebih efektif dan efisien. Peristiwa ini merupakan sebuah paradoks yang biasa disebut efek “threshold” yang pernah dinyatakan oleh Berthelemy dan Varoudakis (1998). Pertimbangan lainnya terkait paradoks ini adalah dikarenakan pemerintah pada negara-negara GCC terlalu memberikan represi terhadap sektor keuangan yang berlebihan sehingga menjadikan sektor ini kaku dan tidak fleksibel dan menyebabkan ketidakstabilan sektor keuangan itu sendiri.

 

            Selanjutnya, pada tabel IV menganalisis mengenai pengaruh keuangan konvensional terhadap pertumbuhan ekonomi. Ketika menggunakan metode regresi OLS, hasilnya menunjukan bahwa indikator-indikator perkembangan keuangan konvensional tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi. Di sisi lain, ketika menggunakan metode panel data dan GLS, menunjukan bahwa indikator dari perkembangan keuangan konvensional berpengaruh negatif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di negara-negara GCC.

 

            Terakhir, pada tabel V mempresentasikan hubungan antara perkembangan keuangan Islam dengan pertumbuhan ekonomi. Temuan utama menunjukan bahwa deposito Islam terhadap rasio PDB mempunyai hubungan positif  dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi. Bahkan, setiap kenaikan pada kredit privat dalam keuangan Islam berkontribusi 0,05 persen terhadap kenaikan tingkat pertumbuhan ekonomi pada negara-negara GCC. Namun begitu, dilihat dari tabel VI, sukuk tidak terlalu mempunyai pengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi di negara-negara GCC, karena pada faktanya perkembangan instrumen sukuk di negara-negara GCC juga terbilang baru dan belum memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi.

            Hubungan positif antara keuangan Islam dan pertumbuhan ekonomi ini juga bisa terpengaruh oleh keuntungan dari penjualan minyak, terutama beberapa periode lalu harga minyak sempat mengalami kenaikan. Sehingga, keuntungan penjualan minyak (oil rents) juga menjadi variabel kontrol dalam penelitian ini, dimana oil rents mempunyai tingkat regresi yang sangat signifikan terhadap relasi positif antara perkembangan keuangan Islam dengan pertumbuhan ekonomi negara GCC.

            Variabel lainnya (tabel VII dan VIII), antara lain, Initial Level of Development (IIC) mempunyai perkiraan negatif-signifikan dari kebanyakan regresi. sementara SSCE dan GC tidak memperlihatkan kontribusi yang berarti terhadap pertumbuhan ekonomi di negara GCC, selanjutnya Trade Openness terhadap rasio PDB mempu nyai tingkat regresi yang signifikan dan berpengaruh positif.  

 

 

 

Kesimpulan

 

            Pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu parameter keberhasilan negara dalam menjalankan tanggung jawabnya kepada rakyat. Maka tidaklah mengherankan jika pemerintah selalu menetapkan target pertumbuhan ekonomi dalam periode tertentu.

            Akhir-akhir ini kita dikabarkan melalui media mengenai kondisi pertumbuhan ekonomi yang mandek di kisaran angka 5 persen. Pada kuartal-III 2019, pertumbuhan ekonomi di Indonesia jatuh pada angka 5,02 persen, yang mana lebih rendah dari kuartal-III 2018 sebesar 5,17 persen. Kondisi ini terjadi lantaran penurunan konsumsi rumah tangga maupun imbas perekonomian dunia yang sedang diliputi ketidakpastian.

Dari penelitian diatas tentu saja bisa menjadi pertimbangan pemerintah untuk menjadi solusi terhadap mandeknya pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Keuangan konvensional diketahui tidak menjadi determinan yang signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di negara GCC, bahkan lebih jauh lagi mempunyai relasi negatif dengan pertumbuhan ekonomi. Kesimpulan utama yang dapat ditarik dari sini adalah keuangan Islam menjadi penentu yang relevan terhadap pertumbuhan ekonomi, dimana keuangan Islam bekerja lebih baik dibandingkan keuangan konvensional sebagai pelaju pertumbuhan ekonomi. Penelitian ini pula menjadi saran untuk pemerintah supaya mengembangkan lagi sistem keuangan Islam mulai dari hal-hal fundamental-prinsipal sampai ke teknis hingga pengembangan aspek-aspek lainnya secara keseluruhan.

 

Referensi

 

Grassa, R., & Gazdar, K. (2014). Financial Development and Economic Growth in GCC Countries, 41(6), 493–514. https://doi.org/10.1108/IJSE-12-2012-0232

 

Ulya, F. N. (2019). Pertumbuhan Ekonomi 5,02 Persen di Kuartal III-2019, Ini Penyebabnya. Kompas.

 

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *