Islamic Digital Financing as A Tool to Generate Indonesia’s Fisheries and Agriculture

Islamic Digital Financing as A Tool to Generate Indonesia’s Fisheries and Agriculture

Oleh: Wahyu Rizky

 

Penggunaan Financial Technology (Fintech) di Indonesia sangat berkembang pesat. Dengan lebih dari 100 juta orang Indonesia adalah pengguna internet dan 70 persennya menggunakan ponsel mereka untuk mengakses website, platform-platform fintech hadir untuk menawarkan sebuah kemudahan bertransaksi kepada para konsumennya untuk mengonsumsi suatu barang/jasa. Para developer fintech di Indonesia berusaha meningkatkan daya kompetitif mereka dalam kinerjanya, tidak heran bahwa sebanyak 44 platform aplikasi keuangan digital yang beroperasi di Indonesia diprediksi akan mengalami kenaikan sebesar 200 persen di tahun 2018, sesuai perkiraan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Hal tersebut juga didukung oleh pesatnya permintaan pasar terhadap kebutuhan jasa finansial digital. Namun, mengingat bahwa Indonesia adalah negara Muslim terbesar di dunia, masih tidak banyak fintech berbasis syariah, inilah yang menjadi hal yang patut dikaji.

Sharia Digital Fintech di Indonesia

Hukum syariah memiliki aturan yang jelas atas dasar mengacu pada Al Quran dan Hadits. Setiap aktifitas bertransaksi terutama dalam berbisnis telah diatur dalam hukum syariah yang disepakati oleh para ulama. Tidak hanya itu, sistem keuangan pun juga turut diatur dalam hukum syariah mulai dari syarat hingga proses arus keuangan. Sistem transparansi keuangan juga sangat dikedepankan dalam sistem keuangan yang syariah, sehingga tidak terjadi unsur gharar (ketidakjelasan).

Fintech syariah sebagai inovasi fintech baru dibidang keuangan Islam seharusnya juga sejalan dengan hukum syariah yang berlaku. Selain itu, dalam transaksinya harus memiliki dasar akad-akad transaksi yang kuat sesuai dengan prinsip Maqsid Syaria dan prinsip Fiqh Muamalah.

Keberadaan fintech syariah di Indonesia boleh dibilang muda. Fintech syariah muncul karena custommers segmentation, bahwa Indonesia merupakan negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia. Kesadaran masyarakat untuk bertransaksi secara syariah meningkat belakagan ini, maka prospek fintech syariah pun sangat cerah. Namun, fintech syariah di Indonesia masih terasa hampa regulasi hukum. Pasalnya, masih ada ketidakjelasan pemisahan antara aturan untuk fintech konvensional dan fintech syariah, namun OJK memberikan sedikit keringanan yang menjadi salah satu pembeda diantara keduanya, yaitu terkait modal awal untuk fintech syariah diringankan menjadi minimal Rp 1 miliar. Selain itu, fintech syariah juga perlu melibatkan bank syariah di dalam transaksinya, namun masih ada benturan terhadap aturan-aturan administrasi pada bank syariah, sehingga fleksibilitas transaksi masih kurang efektif.

Seiring berjalannya waktu, saat ini, tercatat sudah ada sebanyak 10 platform fintech syariah pada Desember 2017 dan tumbuh menjadi 28 platform di Februari 2018 setidaknya sudah ada empat perusahaan fintech lending syariah yang sedang mengurus pendaftaran ke OJK.  Dalam riset Inovate Finance and Red Money yang terpublikasi lewat “The Islamic Fintech Landscape 2017” menyatakan bahwa Indonesia sebagai negara ketiga dengan jumlah fintech syariah terbanyak. Ini membuktikan bahwa para developer platform syariah juga merespon positif permintaan secara kompetitif sekaligus mengacu pada demografi Indonesia itu sendiri. Namun, apakah mereka (platform) tersebut benar-benar melihat dan peka terhadap sebuah peluang besar yang nyata di Indonesia?

Potensi Sharia Digital Fintech Pada Sektor Peternakan, Pertanian, dan Perikanan Indonesia

            Petikan lagu dari Koes Plus ini “orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman” rasanya sudah sangat cukup untuk menggambarkan betapa suburnya lahan di Indonesia. Indonesia dengan beribu-ribu pulau memiliki potensi yang sangat besar dibidang pertanian maupun perikanan. Potesi perikanan Indonesia tersebar sepanjang kurang lebih 5,8 juta km2 zona maritim dengan persetanse peningkatan total produksi perikanan sekitar 13 persen per tahunya, namun pada tahun 2011 jumlah nelayan miskin di Indonesia mencapai 7,87 juta orang dan semenjak tahun 2013 terjadi penurunan jumlah rumah tangga perikanan budidaya di Indonesia. Disisilain, potensi lahan pertanian di Indonesia juga sangat besar, didukung karena Indonesia terletak di garis khatulistiwa dan di wilayah tropis yang membuat lahan pertanian subur, namun menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2013, menyatakan bahwa sekitar 24.196 hektar lahan di Indonesia masih merupakan lahan kritis yang tidak produktif. Potensi-potensi tersebut tentunya didasarkan pada permodalan yang masih kurang dan masih belum tersentuhnya digitalisasi secara signifikan oleh kemudahan teknologi finansial.

Saat ini, terdapat kurang lebih 14 fintech yang bergerak dalam bidang investasi maupun social platform yang berkontribusi dalam sektor perikanan, peternakan, dan pertanian di Indonesia. Munculnya fintech tersebut memiliki misi yang sama, yaitu mengupayakan solusi dari masalah yang terjadi. Namun, pengupayaan tersebut tentunya juga perlu sebuah keberkahan dan kepuasan bagi para investor maupun pengelola modal, sehingga hanya terdapat sedikit fintech diataranya yang berbasis syariah.

Menurut sebagian developer fintech syariah, lahirnya fintech syariah dalam membantu perkembangan sektor rill di Indonesia didasarkan pada kondisi perkembangan sistem keuangan yang masih menerapkan riba (bunga) dan masih minimnya pengetahuan petani-petani terhadap sistem keuangan tersebut karena sudah terbiasa dengan sistem keuangan konvensional. Maka dari itu, sistem keuangan digital syariah muncul sebagai jembatan dakwah dan menjalankan sebuah fungsi Muamalah seperti yang diperintahkan Allah SWT.

Skema fintech syariah terbagi menjadi dua macam, yaitu yang memiliki platform Peer to Peer (P2P) dan crowfunding. Perlakukan akutansi diantara keduanya didasarkan pada masing-masing akadnya. Terdapat sejumlah fintech syariah yang menggunakan akad-akad Muamalah seperti akad Mudarabah. Fintech tersebut diantaranya; (i) Sektor pertanian, iGrow, (ii) Sektor perikanan, Infishta, (iii) Sektor peternakan, Vestifarm. Startup tersebut memungkinkan orang-orang untuk dapat bertani tanpa harus memiliki skill bertani.

Dalam perkembangannya, fintech syariah membawa peran penting terhadap penerapan sistem syariah kedalam pengembangan sektor rill Indonesia. Akad-akad yang paling sering dipakai oleh fintech syariah ialah akad Mudarabah. Meskipun akad tersebut ataupun sistem syariah masih dianggap asing bagi petani, nyatanya sistem ini sangat menguntungkan bagi mereka. CEO Infishta, Ferry Alif Purnama Sugandhi, pada kesempatan acara Mentoring Ekonomi Syariah di FEB UI, ia menyatakan bahwa akad yang digunakan itu (Mudarabah) membawa dampak positif bagi para petani yang ia investasikan berupa kenyamanan bertransaksi dan profit sharing yang jelas. Pada akad Mudarabah, fintech syariah memiliki akad wakalah bil ujroh dengan shabibul amal (pemilik modal) dan mudharib (pengelola) dalam suatu perjanjian di awal. Dalam akad ini, antara petani dan pemilik modal memiliki prinsip profit sharing and loss sharing, artinya kedua hal tersebut akan terlaksana jika petani mengalami panen atau gagal panen, sehingga petani pun tidak akan terbebani. Berbeda pada sistem bank konvensional dengan bunga nominal yang sudah ditetapkan. Ketika petani membutuhkan dana pinjaman namun prediksi panen tidak akurat, maka petani pun akan terbebani jika gagal panen dan makin terbebani lagi jika bunga terus bertambah. Yang menjadi pembeda juga ialah akad Mudarabah harus menyertakan barang sebagai objeknya dalam transaksinya, bukan uang.

Dalam kegiatannya, platform tersebut terus mengkampanyekan bisnisnya kepada para investor untuk dapat berinvestasi jangka pendek pada sektor rill agar pertumbuhan produksi sektor rill Indonesia meningkat. Namun dengan demikian, tetap akan terjadi risiko bisnis seperti gagal panen. Risiko bisnis dalam investasi juga harus dipahami. Beberapa unit plaform fintech syariah merespon risiko tersebut dengan usaha preventifnya. Contohnya, tim Vestifarm dalam mencari peternak yang akan menjadi objek crowfunding-nya melakukan pengamatan langsung ke lapangan untuk melihat track record petani tersebut dengan cara melihat pencatatan transaksinya kepada konsumen. Selain itu, proyek crownfunding-nya disesuaikan dengan musim Indonesia pada saat itu juga. Bentuk pengawasan lainnya ialah, jika para peternak mengalami kendala misalkan kekurangan pangan, maka supervisor Vestifarm harus membantu mencari supplier pangan tersebut.

Final Thought

Sistem kemudahan bertransaksi sekarang tidak dapat dipungkiri lagi keberadaanya. Sesuai dengan hakikatnya, fintech menawarkan sebuah kemudahan dalam setiap bertransaksi maupun berinvestasi yang bersifat crowfunding. Di sisilain, masih belum banyak dari fintech tersebut yang berkontribusi dalam meningkatkan pertumbuhan sektor rill di Indonesia dan juga masih tidak banyak platform fintech tersebut yang beroperasi berbasis syariah.

Kehadiran fintech syariah dengan fokus peternakan, pertanian, dan perikanan Indonesia tidak hanya ikut berkontribusi dalam peningkatan pertumbuhan sektor rill di Indonesia, namun juga terbukti dapat berdampak sosial bagi para petani/peternak/nelayan tersebut. Ketika permodalan para petani terhambat karena bunga bank bersifat countinosly, maka terasa sulit bagi mereka untuk merealisasikan itu, di titik inilah kehadiran fintech syariah sangat berguna.

Dengan adanya fintech syariah di Indonesia, para petani/nelayan bisa terbantu dalam permasalahan dana dan meminimalisir kekhawatiran dalam pengembalian dana, karena dana dikembalikan ketika berhasil panen, jika tidak, maka akan menjadi tanggungan rugi bersama, itulah prinsip dasar dari akad Mudarabah. Oleh karena itu, kita bisa melihat potensi besar yang masih kecil di dalam fintech syariah untuk berkontribusi dalam pertumbuhan sektor rill Indonesia, namun faktor eskternal seperti administrasi bank syariah maupun regulasi dari OJK yang masih kurang men­-support fintech syariah lebih jauh seringkali membuat perkembangannya kurang masif. Kini, tidak ada lagi alasan fintech syariah tidak bisa berkembang, ingatlah janji Allah SWT dalam surat An-Nisa ayat 100 “Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak”.

Referensi