Islam dan Ilmu Ekonomi: Asumsi Deskriptif dan Normatif

img_3183

Ilmu ekonomi dalam perkembangannya telah mengalami perbaikan dari masa ke masa. Peran nama-nama besar seperti Adam Smith, Alfred Marshall dan Lionel Robbins telah memberikan dedikasinya untuk memperbaiki sistem ekonomi dunia. Dominasi positivisme dalam ilmu ekonomi merupakan kekuatan dari sistem ilmu itu sendiri. Tugas dari ekonomi positif ialah membuat sistem yang dapat digunakan untuk membuat prediksi yang tepat mengenai konsekuensi dari perubahan keadaan.Karena keadaan ekonomi terkadang dihadapi masalah-masalah baru diluar prediksi yang membutuhkan solusi segera, maka disaat itulah perbaharuan ekonomi dilakukan.

Dewasa ini, ilmu ekonomi islam sedang dikembangkan sebagai upaya menjawab permasalahan ekonomi yang mendasar hingga kompleks. Sebagian besar masyarakat yang mempercayai ilmu ekonomi Islam merupakan penganut agama Islam pula. Maka segala pola pemikirannya dapat diterima dan diyakini dengan mudah karena worldviewnya pun tidak berbeda. Ilmu ekonomi Islam bersumber dari Al-Quran dan As-sunnah. Hal ini kerap kali menimbulkan asumsi bahwa ilmu ekonomi Islam tidak dapat berdiri sekuat ilmu ekonomi konvensional karena didominasi oleh pola pikir normatif. Dan tidak jarang pula para ekonom Islam merasa bahwa ilmu ekonomi konvensional adalah sepenuhnya salah setelah mereka mempelajari ekonomi Islam lebih lanjut. Padahal sesungguhnya terdapat titik temu atau persamaan antara ekonomi Islam dan ekonomi konvensional. Hanya saja ekonomi konvensional tidak sepenuhnya berpikir mengenai maslahah disetiap akan melakukan kegiatan ekonomi dan ciri ekonomi Islam adalah menerapkan maslahah demi mencapai falah.

[1]Zarqa (2003) menjelaskan hubungan antara Islam dan ilmu ekonomi menggunakan diagram sederhana. Lingkaran besar yang mewakili asumsi Islam dan lingkaran kecil mewakili asumsi ekonomi (konvensional). Garis horizontal merupakan pembagi antara area asumsi normatif dan deskriptif. Terdapat enam area kategori asumsi dan termasuk dua didalamnya merupakan perpaduan asumsi dari kedua pemikiran tersebut yaitu pada area 3 dan 4.  Area 1,3, dan 5 termasuk asumsi normatif dan area 2,4,6 termasuk asumsi deskriptif. Perpaduan tersebut mengartikan bahwa terdapat kesamaan konsep antara asumsi ekonomi dan asumsi Islam.

Gambar.1

rasionalitas

Area 3 (Asumsi Normatif)

Pada ilmu ekonomi kita mengetahui bahwa kegiatan produksi dapat dikatakan efisien apabila dapat memaksimumkan produksi dengan meminimumkan biaya produksi. Konsep ini memiliki preferensi normatif secara implisit karena bicara mengenai “bagaimana semestinya produksi itu”. Hal ini sejalan dengan [2]Q.S Al-Isra: 26 “…dan janganlah kamu menghamburkan (hartamu) dengan boros” yang menyatakan bahwa efisiensi itu dianjurkan dan pemborosan itu dilarang. Dapat disimpulkan bahwa ilmu ekonomi dan Islam itu memilki titik temu pada preferensi normatifnya.

Area 4 (Asumsi Deskriptif)

Tertulis pada [2]Surat Asy-Syura: 27 “ Dan jikalau Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hambaNya tentulah mereka akan melampaui batas dimuka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendakiNya dengan ukuran….”. Dikatakan bahwa akan timbul sikap melampaui batas dari melimpahnya rezeki yang diberikan Allah kepada manusia. Hal ini juga sejalan dengan konsep ekonomi yaitu utility maximization yang secara alami ada pada diri setiap manusia. Secara alami, manusia akan cenderung memilih pilihan yang dapat memaksimumkan kepuasannya. Penggambaran fakta inilah yang disebut asumsi deskriptif dan kedua perspektif antara ilmu ekonomi dan Islam kembali memiliki titik temu. Titik temu inilah yang mengisi area 4 pada diagram tersebut.

Masih banyak contoh-contoh lain yang belum bisa dijabarkan pada kesempatan kali ini. Tulisan singkat ini dibuat untuk menunjukkan bahwasanya substansi Islam dan ilmu ekonomi bukanlah hal yang saling bertolak-belakang. Terdapat banyak titik temu antara keduanya dan karena itu Islam dan ilmu ekonomi tidak dapat dipisahkan. Maka ilmu ekonomi Islam bukan hanya berdiri pada preferensi normatif Al-Quran saja, karena pada Al-Quran pun terdapat preferensi deskriptif. Dan ilmu ekonomi juga tidak sepenuhnya salah, hanya saja ada bagian-bagian mendasar yang berbeda seperti ilmu ekonomi Islam yang menolak adanya riba, gharar dan maysir namun tiga hal tersebut ada pada ilmu ekonomi.

 

Sumber:

[1]        Zarqa, Muhammad Anas. 2003. “Islamization of Economics: The Concept and Methodology”. JKAU: Islamic Econ, 16(1), pp 3-42.

[2]        Al-Quran

 

Penulis: Puput Puji Rahayu, Staf Departemen Pendidikan dan Kajian IBEC 2016

 

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *