Islam and The Land of The Rising Sun

Referensi:Toward a Socially Rational Management: Insights From Japanese and Islamic Business Ethics

Penulis: Hideko Sakurai dan Ayako Sendo

 

  • Latar belakang

    Perkembangan pengelolaan bisnis ekonomi telah semakin besar di masyarakat, banyak  dari perkembangan bisnis ini telah memperoleh keuntungan yang sangat besar juga. Namun, dalam perkembangannya  seringkali muncul banyak masalah lainnya seperti masalah lingkungan, semakin besarnya jarak antara orang kaya dan orang miskin, pengangguran yang disebabkan oleh teknologi, masalah kesehatan, dan juga gangguan mental. Permasalahan ini muncul disebabkan oleh sistem ekonomi yang memiliki dasar pada kenaikan keuntungan saja, dibandingkan dengan mempertimbangankan keuntungan sosialnya.

    Oleh karena itu, penting bagi manajemen bisnis saat ini untuk dikaji ulang secara pendekatannya dan mempertimbangkannya kembali dari rasional ekonomi menjadi rasional sosial. Hal ini juga didukung oleh prinsip penting dalam bisnis yaitu memberi manfaat bagi masyarakat secara keseluruhan dan menciptakan nilai ekonomi yang terjamin. Jadi, sangat penting untuk mengubah model manajemen bisnis, dari model yang hanya mempertimbangkan keuntungan ekonomi menjadi model manajemen bisnis yang seimbang antara keuntungan ekonomi dan keuntungan sosial.

    Tujuan

    Studi ini menyelidiki pendekatan untuk manajemen bisnis berdasarkan rasionalitas sosial, yang dicapai melalui keseimbangan yang tepat antara keuntungan dari pertukaran ekonomi dan pertukaran sosial.  Sehingga menghasilkan model manajemen bisnis yang baik bagi perusahaan dan masyarakat dalam jangka yang panjang.

    Metode penelitian

    Pertama, studi ini mengkaji ekonomi proses rasionalisasi yang dikembangkan oleh badan usaha, yaitu sebuah inovasi modern di wilayah barat, tetapi dikritik karena mendominasi ekonomi melalui modal dan kekuasaan yang luar biasa. Kedua, rasionalitas sosial dijelaskan dengan berfokus pada keseimbangan antara pertukaran ekonomi dan pertukaran sosial. Ketiga, etika dan praktik tradisional Jepang dan manajemen bisnis Islam diperiksa termasuk yang mendasari rasionalitas sosial dalam bisnis dan kesamaan dalam bisnis praktik yang mengedarkan keuntungan ekonomi di masyarakat mereka.

    Pembahasan

    Rasionalisasi sosial

    Rasionalisasi ekonomi atau berpikir secara ekonomi sangat penting untuk manajemen bisnis untuk mencari keuntungan, tetapi masih banyak perusahaan mempraktikkan rasionalisasi ekonomi yang hanya mengedepankan keuntungan sehingga menyebabkan ketidakseimbangan dalam masyarakat secara keseluruhan. Sedangkan rasionalisasi sosial atau berpikir secara sosial didapatkan melalui menyeimbangkan antara keuntungan dan juga manfaat dari perusahaan tersebut. “Keuntungan” didapatkan melalui pertukaran ekonomi yang bersifat pribadi karena hanya secara langsung dirasakan oleh perusahaan, diperoleh dalam pertukaran ekonomi dengan memilih tindakan efisien berdasarkan rasionalitas ekonomi. Di sisi lain, “manfaat” didapatkan melalui pertukaran sosial berorientasi publik/kesejahteraan dan diperoleh melalui donasi, amal, atau pemberian. Untuk menjalankan rasionalisasi sosial dengan baik, perusahaan harus mempertahankan seseimbangan keuntungan pasar dan juga manfaatnya bagi masyarakat, sehingga akan tercipta hubungan timbal balik antara keduanya. Rasionalisasi sosial ini ternyata sudah lama terdapat dalam ajaran jepang dan islam.


    Bisnis Manajemen Jepang

    Dahulu kala, menurut jepang bisnis merupakan salah satu ajaran dari Buddha. Contoh dari ajaran ini diterapkan oleh pedagang omi, pedagang ini terletak di antara dua kota. Mereka menghubungkan kebutuhan antar dua kota tersebut. Hal ini berdasarkan ajaran jodoshinshu yang mengajarkan mereka untuk menyediakan sesuatu untuk mereka yang membutuhkan. Adapun ajaran mereka lainnya yaitu engi, yang mengajarkan pentingnya berhubungan dengan orang lain, mengajarkan untuk tidak egois dan selalu berbagi pada sesama.

    Dalam praktek bisnis di Jepang disebut dengan sanpo-yoshi, yaitu sebuah metode pengelolaan bisnis yang mengutamakan tiga aspek: penjual, pembeli, dan masyarakat. Hal ini biasa diterapkan melalui donasi, berbagi kepada yang kurang mampu, menurunkan harga jika terjadi bencana, dll. Para pedagang jepang yakin bahwa dengan menyalurkan keuntungannya pada masyarakat akan berguna bagi perkembangan ekonomi mereka kedepannya dalam jangka waktu yang panjang. Model manajemen bisnis Jepang menggabungkan siklus jangka pendek dan siklus jangka panjang dengan menjaga keseimbangan antara ekonomi dan sosial sehingga mencapai rasionalitas sosial dalam menjalankan bisnis mereka.

    Bisnis Manajemen Islam

    Islam juga mengajarkan tentang pentingnya mengedepankan rasionalitas sosial. Praktik yang melekat dalam islam diantaranya ada zakat yang menjadi kewajiban umat islam untuk menyisihkan sebagian dari kekayaannya untuk dibuat amal. Terdapat juga sadaqa dengan pengertiannya sebagai amalan di jalan Allah tanpa mengharapkan imbalan. Efek sadaqa tidak hanya berfungsi untuk menampung perbedaan pendapatan tetapi juga memberikan dukungan timbal balik dalam masyarakat. Sadaqa merupakan salah satu tindakan yang dilakukan dalam islam untuk mendapatkan imbalan dalam kehidupan di akhirat, seperti halnya bisnis yang melakukan donasi dalam masyarakat akan mendapat keuntungan di jangka panjang yang didapatkan dari hubungan timbal balik kepada masyarakat, keuntungan ini tidak dirasakan secara langsung oleh perusahaan bisnis tersebut.

    Oleh karena itu, dapat terlihat jelas rasionalitas sosial itu dicapai dengan menjaga keseimbangan antara keuntungan jangka pendek dan jangka panjang melalui etika dan praktik bisnis Islam yang serupa dengan praktik bisnis di Jepang yang disebutkan di atas. Rasionalitas sosial lainnya yang terdapat dalam islam adalah wakaf, Yaitu, penghimpunan wakaf berupa bisnis maupun wakaf melalui uang yang khusus dijadikan/dikonversi menjadi wakaf bisnis untuk didayagunakan sesuai peruntukan demi kepentingan umat. Pendayagunaan wakaf bisnis bersifat komersial (menghasilkan keuntungan/laba). Sekarang ini juga sudah banyak bentuk wakaf yang bisa dijadikan bisnis. Meskipun wakaf telah dikritik karena merugikan modernisasi, namun ini hanya hasil dari pengubahan keuntungan pribadi menjadi keuntungan publik dan wakaf telah berhasil untuk menjaga keseimbangan diantara kedua keuntungan tersebut.

    إِنَّ ٱلْمُصَّدِّقِينَ وَٱلْمُصَّدِّقَٰتِ وَأَقْرَضُوا۟ ٱللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا يُضَٰعَفُ لَهُمْ وَلَهُمْ أَجْرٌ كَرِيمٌ

    Sesungguhnya orang-orang yang membenarkan (Allah dan Rasul-Nya) baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya akan dilipatgandakan (pembayarannya) kepada mereka; dan bagi mereka pahala yang banyak.

    [Al-Hadid : 18]

    Kesimpulan

    Beberapa praktik manajemen Jepang dan Islam mewujudkan pengelolaan bisnis berdasarkan rasionalitas sosial. Penting bagi sebuah bisnis mempertimbangkan manajemen dalam skala kehidupan yang luas dan ekonomi yang nyata. Oleh karena itu, dalam jurnal ini penulis menyarankan bisnis untuk memerhatihan rasionalitas sosial dalam usahanya, selain mencari profit kita juga harus memberikan timbal balik kepada masyarakat, bertanggung jawab terhadap sekitar, dan menumbuhkan rasa kepercayaan. Karena timbal balik yang diberikan oleh dunia usaha kepada masyarakat dapat menjaga sirkulasi positif yang menguntungkan bisnis dalam jangka panjang.

 

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *