ISB is More Special Than SB

Oleh Hanifah Nur Rohma Sa’idah (Bisnis Islam 2019), Staff Departemen Penelitian IBEC FEB UI 2020

Referensi Jurnal: Islamic Social business to Alleviate Poverty and Social Inequality

Penulis: M. Nusrate Aziz, Osman Bin Mohamad

 

Latar Belakang

Zakat, shadaqah, wakaf, dan qard al-hasan sudah diterapkan sejak zaman Nabi Muhammad SAW dan dipercaya mampu mengurangi kemiskinan. Zakat Al-Fitr adalah salah satu instrumen pengentasan kemiskinan yang diwajibkan bagi orang yang mampu untuk diberikan kepada orang yang membutuhkan, sehingga hal tersebut mampu mengurangi kesenjangan sosial yang ada di lingkungan masyarakat. Nabi Muhammad SAW bersabda yang intinya bahwa meskipun orang kaya dan orang miskin ada di suatu masyarakat, kaum muslim yang kaya memiliki tanggung jawab kepada orang miskin di lingkungan masyarakatnya.

Fundamental Islam tidak bisa diubah, namun tatanan ekonomi dan keuangan dapat mengalami perubahan melalui inovasi. Penelitian ini menjelaskan bahwa berbagai mode investasi mampu menumbuhkan amal. Dengan demikian, mode-mode ini akan berpeluang untuk mengurangi masalah sosial secara berkelanjutan. Kerangka kerja baru yang diperkenalkan dalam penelitian ini adalah ISB (Islamic Social Business). Hal tersebut merupakan model berkelanjutan untuk memecahkan masalah sosial dan mengurangi kemiskinan

Namun, apa yang dimaksud dengan  SB (Social Business) dan ISB (Islamic Social Business)? Mengapa kita membutuhkan model ISB jika model SB dapat berhasil meringankan masalah sosial dan kemiskinan? Pertanyaan-pertanyaan ini akan dijawab dalam pembahasan penelitian ini.

 

Tujuan

Meskipun penelitian ini adalah yang pertama kali membahas mengenai efisiensi sumber pendanaan Islam yang potensial melalui ISB, namun penulis yakin bahwa tujuan dari hasil penelitian ini akan efektif dalam menyelesaikan masalah sosial, mengurangi kemiskinan dan ketimpangan sosial melalui kerangka kerja operasional baru yang disebut ISB (Islamic Social Business). Sehingga dengan adanya penelitian ini juga diharapkan masyarakat luas menjadi sadar akan kewajiban masing-masing dalam menjaga kesetaraan sosial di lingkungan masyarakatnya.

 

Metode Penelitian

Metode penelitian yang digunakan adalah kajian konseptual yang didasarkan pada prinsip-prinsip Al-Quran serta filosofi kesejahteraan sosial kontemporer, seperti augmented stakeholder theory. Selain itu, penelitian ini juga menggunakan Al-hadist sebagai pedoman dalam pengambilan kesimpulan. Karena penelitian ini sepenuhnya menggunakan kajian sumber literatur, maka penulis akan bereksplorasi lebih luas dalam menggali temuan dan kesimpulan sehingga kerangka kerja teoritis yang didapat mampu diterapkan dalam lingkungan masyarakat.

 

Temuan

  1. Social Business

Bisnis yang memiliki laba maksimum dianggap sebagai bisnis yang paling efisien. Namun,  jika dilihat dari sisi sosial, bisnis tersebut tidak mampu memenuhi etika kesejahteraan sosial. Adanya lingkungan bisnis yang seperti ini mendorong para peneliti dan aktivis kesejahteraan sosial untuk menemukan alternatif bisnis yang dapat menghasilkan laba sekaligus memiliki tanggung jawab terhadap kesejahteraan sosial.

Peraih Nobel Peace Prize Laureate Professor Muhammad Yunus memperkenalkan konsep SB (social business). SB ini tidak memberikan profit bagi investor, tidak akan rugi, dan menjadi bisnis non-dividen (Yunus dan Weber, 2009). Menurut mereka, SB dibedakan menjadi 2 tipe:

SB Tipe I         : SB ini adalah bisnis yang dipegang oleh kelompok orang mampu, mereka membiayai bisnis namun tidak menerima keuntungan sedikitpun. SB tipe I ini fokus pada tujuan sosial, tingkat kelayakan produk, dan pencapaian tujuan lingkungan.

SB Tipe 2        : SB ini adalah bisnis yang berorientasi pada laba. SB ini dikelola oleh orang kurang mampu yang ada di masyarakat sehingga mereka fokus pada keuntungannya.

Menurut Muhammad Yunus, terdapat dua metode pengoperasian SB:

  1. Mengidentifikasi masalah sosial tertentu
  2. Membuat model bisnis yang mampu menyelesaikan masalah sosial tersebut

Contoh SB tipe I adalah perusahaan “Danone”, menjual yogurt yang diperkaya gizi dengan harga terjangkau kepada lingkungan masyarakat yang kurang mampu untuk memerangi masalah kurang gizi di lingkungan mereka. Demikian pula perusahaan “Viola” yang memastikan saluran air bersih di daerah pedesaan untuk mencegah masalah kesehatan bagi lingkungan tersebut. Untuk SB tipe II, Yunus et al. (2010) mengambil contoh “Grameen Bank” dimana 95% kepemilikan dividen dimiliki oleh orang miskin yang mengelola perusahaan tersebut.

Namun, tentu saja Social Business khususnya tipe I akan sulit diterapkan dalam masyarakat kapitalis. Disisi lain, meskipun tujuan SB dan ISB adalah sama yaitu penyetaraan kesejahteraan sosial, namun SB masih memungkinkan pembiayaan dan investasi berbasis bunga, dimana bunga adalah sesuatu yang dilarang dalam islam. Selain itu, prinsip kerja SB yang masih memaksimalkan keuntungan itu sangat bertentangan dengan prinsip ekonomi islam. Kekurangan SB yang lain adalah mengenai sumber dana, semua agen yang terlibat adalah orang yang termotivasi oleh utilitas sehingga kurang sesuai dengan prinsip sosial islam.

  1. Islamic Social Business

Target untuk usaha kesejahteraan sosial pada awalnya adalah orang-orang dengan cacat mental dan fisik, wanita, kelompok minoritas, kaum muda yang tidak berpengalaman, atau mereka yang cacat sosial (pecandu narkoba dan alkohol). Oleh karena itu pada akhir 2004, sekitar 7.100 koperasi sosial didirikan di Eropa Defourny (2007).

Cendekiawan Islam mengusulkan beragam metode. Sebagai contoh, Al-Gari (2004) menyarankan untuk mendirikan “Qard Al-Hasan Bank”. Khan (2003) menguraikan skema takaful berdasarkan dana wakaf. Reksa dana dengan memanfaatkan wakaf juga telah diusulkan oleh Islamic Ideology of Pakistan Ahmed (2004). Yusoff (2004) mengemukakan bahwa perusahaan pengelola wakaf harus bertanggung jawab dalam pengelolaanya.

Secara historis, dana wakaf dikumpulkan dan dikelola oleh sektor swasta, seperti lembaga nirlaba (dikenal sebagai “trust”), fuqaha dan para pemimpin sosial lainnya. Namun, karena sikap birokrasi dan inefisiensi, dana wakaf tidak pernah terbukti menjadi instrumen yang berhasil untuk memerangi kemiskinan Ahmad (2004). Islamic Development Bank (IDB) mendirikan “Awqaf properties Investment Fund ” (APIF) pada tahun 2001, sejak itu mobilisasi dana wakaf dilaksanakan.

Kerangka kerja terintegrasi wakaf dan zakat dengan keuangan mikro Islam bisa menjadi pendekatan yang kuat untuk pengentasan kemiskinan Hassan (2010). Ahmed (2004) mengemukakan bahwa koordinasi antara lembaga zakat dan wakaf, lembaga pemerintah, organisasi non-pemerintah dan organisasi sipil sangat penting untuk menciptakan dampak signifikan dana Islam pada pengentasan kemiskinan.

Sumber Pendanaan:

Secara khusus, pertama, beberapa dana dapat bersumber dari zakat yang merupakan kontribusi wajib oleh muslim kaya. Kedua, umat islam termotivasi oleh agama untuk shadaqah, wakaf dan qard al-hassan. Karenanya, jika Islamic Financial Institutes (IFI), Islamic Charity Organisation (ICOs) atau pemerintah dapat memastikan sistem pengelolaan dana yang tepat maka akumulasi dan investasi dana ISB akan menjadi proses sistematis dan berkelanjutan yang akan mengarah pada pertumbuhan dana ISB.

Pertumbuhan ISB

Menurut informasi Islamic Bank dan lembaga keuangan (IBIS, 2012), dalam total 113 bank syariah telah memobilisasi US $ 686 miliar aset di 27 negara di Eropa, Timur Tengah, Asia, Afrika, dan Australia pada 2012. Selain itu, bank syariah membayar sekitar US $ 1.502 juta pajak dan zakat pada 2012. Statistik menunjukkan bahwa jumlah pajak dan zakat telah tumbuh dengan tren pertumbuhan keuangan Islam. Perbandingan antara total laba Islamic Bank dan pengeluaran mereka untuk pajak dan zakat terlihat pada (Gambar dibawah). Jika kita membandingkan pembiayaan untuk qard al-hasan dengan total pembiayaan oleh bank syariah, yang meliputi murabahah dan penjualan yang ditangguhkan, sewa guna usaha dan pembelian, mudarabah, musharakah, salam dan istisna dapat disimpulkan bahwa lembaga keuangan Islam mendistribusikan kurang dari satu persen di qard al-hasan (Gambar dibawah).

Framework IBS

Jika sebuah konsep tidak bertentangan dengan hukum dasar Syariah, peneliti tidak perlu mengubah konsep itu. Oleh karena itu, peneliti tidak ingin mengubah gagasan tentang jenis “SB”. Untuk konsep ISB, jika dana berasal dari “Qard Al-Hassan” (atau keuangan mikro Islam), peneliti menyebutnya bisnis “ISB Tipe I”. Jika dana dihasilkan dari shadaqah, zakat, wakaf, atau donasi lainnya, peneliti menyebutnya bisnis “ISB Tipe II”.

Kesimpulan

Nabi Muhammad (SAW) tidak hanya memerintahkan pembayaran zakat (yang merupakan salah satu pilar fundamental Islam) tetapi juga sangat mendorong praktik qard al-hasan, pengeluaran shadaqah, dan wakaf untuk mengurangi kemiskinan. Baik IFI atau organisasi amal Islam dapat secara kolektif mengumpulkan dana zakat, shadaqah, wakaf dan dapat memulai ISB pada skala yang lebih besar. Peneliti menegaskan bahwa konsep ISB lebih istimewa dibandingkan dengan SB untuk mengatasi kemiskinan dan kesenjangan sosial karena mekanismenya menggunakan prinsip syariah, sehingga dengan terlibat didalamnya akan sekaligus menjalankan perintah Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *