Relationship Between the Islamic Work Ethics and the Love of Money

Relationship Between the Islamic Work Ethics and the Love of Money

Oleh Faruk Kerem Sentürk dan Mehmet Bayirli (2016)

Diulas oleh Harris Rizki Ananda

Staff Departemen Penelitian IBEC FEB UI

 

PENDAHULUAN

Dasar-dasar teori manajemen modern setelah revolusi industri didirikan oleh peradaban barat dan perkembangan yang berorientasi barat ini berlanjut bahkan sampai hari ini. Namun, untuk menerapkan dan kemampuan untuk menjelaskan model di masyarakat non-barat cukup rendah (Rokhman, 2010). Dalam hal ini, Ali (1989) menekankan bahwa transfer teknik dan praktik manajemen barat harus dilakukan dengan hati-hati dengan model yang sesuai untuk area yang bersangkutan harus dipilih dan model baru harus dibuat untuk mencapai target pembangunan. Setelah mengambil titik ini sebagai dasar, Ali (1988) meletakkan dasar-dasar studi Islamic Work Ethic (IWE/Etika Kerja Islam) untuk menjelaskan pemahaman etika berbasis Islam di masyarakat timur. Skala IWE dikembangkan untuk meningkatkan sisi praktis etika kerja Islam serta dalam karya-karya konseptual. Konsep IWE yang dibangun atas sifat-sifat yang tercantum dalam Al-Qur’an, seperti adil, menepati janji, bertanggung jawab, konsisten, solidaritas, dan yang lainnya.  Selain itu, konsep IWE juga dibangun atas sudut pandang Islam bahwa kerja dianggap sebagai kebajikan yang ditujukan untuk memuaskan kebutuhan manusia dan ditekankan bahwa orang hanya dapat menyeimbangkan kebutuhan pribadi dan sosial mereka melalui pekerjaan.

Memahami sikap orang terhadap uang memberi kita wawasan yang signifikan tentang kecenderungan belanja konsumen, sikap mereka terhadap lingkungan, kinerja kerja mereka, dan secara singkat, perilaku manusia (Tang, 1992; Roberts et al., 1999). Uang yang dapat didefinisikan secara singkat sebagai alat komersial dan unit penilaian nilai (Smith, 1937), telah dinilai lebih penting dalam hidup kita dalam beberapa tahun terakhir dibandingkan dengan masa lalu. Transisi masyarakat dari kehidupan desa yang mandiri ke kehidupan perkotaan berbasis konsumsi dapat dianggap sebagai pemicu untuk perubahan ini. Konsep the Love of Money (LOM/Kecintaan terhadap Uang) dibangun atas sikap orang terhadap uang yang dapat memengaruhi persepsi mereka terhadap upah di tempat kerja dan motivasi pribadi mereka, dan akibatnya perilaku mereka terkait dengan pekerjaan, kinerja mereka, kepuasan kerja, motivasi, dan efektivitas dalam pekerjaan semuanya terpengaruh dalam hal ini. Terdapat empat dimensi/variabel dalam LOM, yakni:

  1. Good, dalam faktor ini, gagasan bahwa uang itu baik, penting, berharga, dan menarik diwakili. Singkatnya, sikap positif tentang uang dikumpulkan.
  2. Evil, dalam faktor ini, sikap negatif terhadap uang dikumpulkan. Pemikiran bahwa uang adalah sesuatu yang jahat, tidak perlu, dan memalukan dapat diberikan sebagai contoh dari pikiran negatif semacam itu.
  3. Power-Success, dalam faktor ini, uang dianggap sebagai tanda keberhasilan oleh orang-orang tertentu diwakili oleh faktor keberhasilan. Atribut uang yang membuat orang berkuasa dengan memberi mereka otonomi dan kebebasan finansial.
  4. Budget, dalam faktor ini, pemikiran tentang seberapa banyak pertimbangan orang membayar untuk penggunaan uang, dalam hal pembayaran jangka pendek dari akun dan investasi jangka panjang.

TUJUAN

Tujuan dari jurnal ini adalah mengidentifikasi hubungan antara Islamic Work Ethic (IWE) dan dimensi the Love of Money (LOM) yang mana gaya hidup Islam tidak menganggap materialisme sebagai esensi kehidupan. Sehingga, jurnal ini mencoba untuk menentukan hubungan antara IWE dan LOM yang merupakan faktor penting bagi karyawan melalui persepsi mereka tentang pekerjaan.

METODE PENELITIAN

Penelitian dilakukan menggunakan pendekatan analisis korelasional, dengan memakai kuesioner kepada sampel sebanyak 500 pedagang di pusat Alanya, Turki. Penelitian ini menggunakan SPSS untuk uji validitas serta analisis ANOVA. Terdapat delapan variabel atau faktor dalam kuisioner, yakni Good, Evil, Budget, Power-Success, Age, Education, Income, dan IWE.

KESIMPULAN

Dalam hasil analisis faktor, dimensi power-success menunjukkan bahwa peserta penelitian menganggap uang sebagai alat yang membawa kekuatan dan kesuksesan bersama. Selanjutnya, penelitian ini mengungkapkan bahwa persepsi IWE memiliki korelasi positif dan signifikan dengan dimensi LOM sebagai good, budget, dan power-success. Peserta yang memberi emosi positif ke dalam uang, menganggarkan uang mereka dengan hati-hati dan percaya bahwa memiliki uang membawa juga kesuksesan dan kekuatan serta memiliki nilai yang tinggi di IWE, dan dimensi-dimensi tersebut memiliki korelasi positif dengan satu sama lain. Haroon et al. (2012) menekankan bahwa peningkatan pada IWE juga akan membawa peningkatan pada kinerja pekerjaan, sementara Marri et al. (2012) mendukung dan juga menambah komitmen organisasi terhadap korelasi.

Singkatnya, orang-orang dengan persepsi tinggi memperoleh IWE dan menggunakan uangnya dengan niat baik, mendukung keadilan sosial dan ekonomi dan persaudaraan sosial, dan melihat kehidupan ini sebagai lahan tanaman yang harus dikembalikan di akhirat. Selain itu, orang-orang dengan persepsi IWE yang tinggi memandang uang sebagai alat materialis, dan ini mungkin terkait dengan hasil penelitian bahwa dimensi evil uang tidak memiliki korelasi dengan IWE. Variabel yang berbeda seperti komitmen organisasi, kinerja, perilaku warga organisasi, perilaku berbagi pengetahuan dan kepuasan kerja dapat digunakan untuk penelitian masa depan untuk mencapai hasil rinci dan untuk mengamati efek IWE dan LOM.

Akhirnya, penelitian ini mengungkapkan bahwa peserta yang menikah memiliki tingkat persepsi IWE yang lebih tinggi dibandingkan dengan peserta yang belum menikah. Islam menekankan pentingnya pernikahan baik dalam Al-Qur’an dan Hadits Nabi Muhammad SAW. Orang yang menikah memiliki tanggung jawab tidak hanya untuk diri mereka sendiri tetapi juga untuk pasangan dan anak-anak mereka. Dalam Islam, kita harus memberi makan keluarga kita dengan penghasilan yang halal. Sebagai hasilnya, penulis dapat menyarankan bahwa pernikahan meningkatkan kesadaran pandangan Islam dengan melarang tindakan haram dan membimbing tindakan halal. Dengan cara ini orang yang menikah memiliki tingkat persepsi IWE tinggi yang memandu komitmen organisasi (Farsi et al., 2015) dan kinerja kerja yang tinggi (Imam et al, 2015).

REFERENSI

Sentürk, Faruk Kerem; Bayirli, Mehmet. (2016). Relationship between the Islamic Work Ethic and the Love of Money. International Journal of Research in Business and Social Science, 5(3), 95-110.