Fenomena Kurban Online di Indonesia

Fenomena Kurban Online di Indonesia

Oleh : Khansa Mutia – Staf Departemen Pengembangan Sumber Daya Manusia IBEC 2017

Pada 1 September yang lalu, bertepatan dengan 10 Dzulhijjah 1438 H, umat muslim di Indonesia merayakan Idul adha. Hari raya Idul Adha sendiri identik dengan berkurban. Berkurban merupakan salah satu perintah Allah kepada hamba-Nya, mereka yang mampu diwajibkan untuk menyembelih hewan kurban dan membagikan dagingnya kepada masyarakat yang kurang mampu. Berbeda dengan zaman dahulu, sekarang sudah banyak institusi di kalangan masyarakat yang membuka jasa khusus pelasanaan kurban itu sendiri, mulai dari menangani pemesanan hewan kurban, pemotongan, hingga pelaksanaan distribusinya. Lebihnya lagi, dewasa ini berkurban semakin mudah dengan adanya institusi yang menawarkan jasa kurban secara online.

Dengan adanya perkembangan teknologi, melalui jaringan online, masyarakat dapat dengan mudah mendapatkan hewan kurban. Di era modern dimanna teknologi  berkembang pesat, semakin banyak jaringan online shop yang menawarkan berbagai macam paket hewan kurban dengan spesifikasi dan harga yang bervariasi. Melihat hal tersebut, tentu ada perbedaan dibanding dengan membeli hewan kurban secara konvensional. Mudhohi/sahibul qurban (pekurban) tidak bisa menikmati sebagian hak daging hewan kurbannya. Selain itu, mereka juga tidak bisa melihat kepada siapa daging hewan tersebut didistribusikan serta dari sisi ijab qobul pun tidak secara langsung (melalui tatap muka). Lalu, apakah kurban online diperbolehkan dalam Islam?

Terdapat perbedaan pendapat mengenai hukum berkurban secara online. Untuk beberapa pendapat yang menganjurkan untuk melakukan kurban secara konvensional  (bukan online) dilandaskan oleh alasan-alasan terkait keutamaan yang hilang apabila kurban dilakukan secara online. Pada dasarnya, praktik kurban online berarti membeli hewan kurban untuk disembelih di luar daerah sahibul kurban itu sendiri. Oleh karena itu, ada beberapa sunah yang hilang seperti turut menyaksikan penyembelihan hewan kurbannya, menyembelih sendiri hewan kurban, dan menyebut nama Allah ketika menyembelihnya. Apabila hal-hal tersebut diwakilkan kepada orang lain, maka sahibul qurban tidak akan mendapatkan keutamaan ini. Sahibul qurban juga tidak mengetahui kapan hewan kurbannya disembelih. Sementara sahibul qurban sendiri disyariatkan untuk tidak memotong kuku maupun rambut, sampai hewan kurbannya disembelih. Selain itu, dianjurkan pula bagi sahibul qurban untuk memakan sebagian dari hewan kurbannya.

Allah berfirman,

فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْبَائِسَ الْفَقِيرَ

“Makanlah bagian hewan kurban tersebut dan sedekahkan kepada orang yang membutuhkan,” (QS. Al-Haj: 28)

Berdasarkan alasan ini, Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah) melarang mengirim hewan kurban dalam keadaan hidup maupun mengirim sejumlah uang untuk dibelikan hewan kurban dan disembelih di tempat lain. (Liqa’at Bab al-Maftuh, volume 92, no. 4). Menurut Ustadz Ammi Nur Baits, cara yang dapat ditempuh yaitu menyembelih di tempat sendiri, selanjutnya sahibul qurban baru dapat mendistribusikan daging kurban ke daerah lain sesuai kehendaknya.

Selain pendapat yang cenderung menganjurkan untuk melakukan kurban secara konvensional, terdapat pula pendapat yang memperbolehkan untuk melakukan kurban secara online. Ahmad Fauzi Qoshim, Manager Corps Dai Dompet Dhuafa (Cordofa) menjelaskan, bahwa jumhur ulama membolehkan praktik jual beli barang dengan syarat menyebutkan karakteristik atau spesifikasi dari barang yang diperjual-belikan (mahal al’aqd) disertai menampilkan gambarnya (sesuai dengan kondisi aslinya) dengan syarat sifat-sifat barang yang mempengaruhi nilai barang tersebut (harus jelas dari segi ukuran, jenis, waktu penyerahan barang, dan lain sebagainya), serta bebas dari unsur penipuan. Terkait hal-hal yang menyangkut pernyataan transaksi (sighah/ijab qobul) pun dianggap sah. Ijab qabul dialakukan melalui transaksi pembelian atau pemesanan. Menurut beliau, penyebutan sifat-sifat barang yang akan dijual sama kedudukannya dengan melihat barang yang diperjual-belikan. Diantara dalil yang menjadi acuan untuk pendapat ini yaitu: “Barangsiapa yang jual beli salaf (salam) maka hendaklah berjual beli salaf (salam) dengan ukuran tertentu, dan berat tertentu, sampai waktu tertentu” (HR. Al-Bukhary dan Muslim). Selain itu, tidak masalah apabila sahibul kurban tidak mengambil hak 1/7 dari daging kurbannya. Beberapa alasan lain yang mendukung untuk membolehkan praktik kurban online percaya bahwa kurban online bisa lebih baik karena, ketika semarak pelaksanaan kurban yang tidak merata, dimana qurban banyak di daerah golongan orang-orang mampu. Sedangkan masih banyak di daerah desa miskin atau daerah pelosok yang tak pernah makan daging.

Kini telah banyak institusi yang menawarkan jasa kurban online. Pada umumnya, institusi-institusi tersebut memiliki tujuan untuk memudahkan dan membagikan daging kurban kepada mereka yang paling membutuhkan. Biasanya kurban online dilakukan dengan kanal pembelian hewan kurban melalui counter, online shop, kantor kas, kantor pusat, dan di tempat perbelanjaan yang bekerja sama dengan institusi-institusi tersebut. Masyarakat yang memanfaatkan jasa kurban online pun tidak bisa dibilang sedikit karena untuk beberapa institusi besar yang telah menyediakan jasa kurban online telah menerima banyak donasi dari masyarakat Indonesia hingga berhasil dalam memperluas jangkauan target penerima hewan kurban online hingga ke 33 negara yang dilanda kelaparan dan kemiskinan akibat bencana alam dan konflik kemanusiaan. Namun, dengan berkembangnya institusi-institusi khusus yang menyediakan jasa kurban online, masyarakat diharapakan dapat tetap waspada terhadap unsur penipuan. Wallahu’alam.

Sumber            :

https://konsultasisyariah.com/8044-hukum-kurban-online.html

https://act.id/kolaborasi/detail/globalqurban

https://www.dompetdhuafa.org/post/detail/1306/kurban-via-online-bolehkah-dalam-islam-