ENDORSEMENT DALAM KACAMATA EKONOMI ISLAM

ENDORSEMENT DALAM KACAMATA EKONOMI ISLAM

“Aduh, dagangan ga laku-laku nih, gimana ya biar banyak yang beli?”

“Coba endorse selebgram aja, peluang dibelinya tinggi loh.”

Endorsement, sebuah cara untuk mempromosikan suatu barang yang dewasa ini makin marak terutama di media sosial. Pada dasarnya, endorsement merupakan sebuah dukungan terhadap seseorang/sesuatu yang mengandung unsur promosi, seperti halnya sebuah produsen sepatu olahraga yang meng-endorse atlet-atlet berprestasi. Sebenarnya endorsement bukanlah suatu hal yang baru dalam dunia bisnis, tetapi karena prakteknya yang kini menjamur di media sosial, akhirnya istilah tersebut kini menjadi tidak asing didengar oleh masyarakat secara luas. Saat ini, manusia sudah tidak dapat terpisahkan dari kemajuan teknologi seperti internet. Penggunaan internet yang awalnya hanya dapat dilakukan melalui komputer saja seiring waktu hanya melalui sentuhan jari di layar smartphone. Adanya teknologi ini memberikan banyak sekali kemudahan bagi manusia, mulai dari berkomunikasi dengan orang yang sangat jauh hingga untuk berbelanja sekalipun.

Tren Online Shopping

Berbelanja melalui internet, atau yang lebih sering disebut dengan e-commerce, telah menjadi sebuah tren dalam kehidupan dunia zaman modern ini, termasuk di Indonesia. Selain memberikan kemudahan, online shopping juga dinilai lebih efisien karena dapat menghemat waktu dan juga ongkos untuk membeli suatu barang yang dibutuhkan. Berdasarkan survey yang dilakukan oleh Marketing Research Indonesia – PT. Mars Indonesia, penetrasi di Indonesia telah mencapai angka 35,4% dari total populasi penduduk Indonesia. Selain itu, 93,5% menggunakan media sosial Facebook, dan 43,3% menggunakan media sosial Instagram.

Media sosial tersebut pada dasarnya bukan diciptakan sebagai tempat untuk berbisnis. Indonesia sendiri sudah banyak membuat situs-situs yang memang sengaja dibuat untuk tempat berbisnis, seperti Lazada, Blibli, Tokopedia, dan masih banyak lagi. Adanya pengguna media sosial yang sangat banyak, maka para pebisnis melihat adanya potensi untuk mengiklankan produknya melalui media sosial. Terlebih lagi, adanya public figure yang terkenal di dunia maya dapat menjadi sebuah potensi tinggi untuk mempromosikan suatu barang di media sosial. Namun, bagaimanakah ekonomi Islam memandang sistem endorsement?


Endorsement

Islam mengatur dengan sangat teliti segala hal yang berkaitan dengan maal atau harta, termasuk dalam berbisnis. Selain itu, Islam pun menyarankan umatnya untuk berniaga atau berbisnis, sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

“Hendaklah kamu kuasai berbisnis, karena 90% pintu rezeki ada dalam bisnis” (H.R. Ahmad) (haditsnya dhaif)

Seorang pengusaha muslim sudah sepatutnya mengamalkan hukum-hukum ekonomi Islam dalam bisnisnya, baik dalam bertransaksi, maupun dalam pemasarannya. untuk memasarkan produknya dapat menggunakan periklanan, endorsement salah satunya. Pada dasarnya, proses pemasaran merupakan suatu proses sosial yang dengan proses tersebut individu dan kelompok medapatkan kebutuhan dan keinginan mereka dengan menciptakan, menawarkan, dan dengan secara bebas mempertukarkan sesuatu produk atau jasa yang bernilai satu sama lain (Kotler, 1999:11). American Marketing Association menerangkan bahwa “any paid form of nonpersonal communication about an organization, product, service, or idea by an identified sponsor” (Morrisan 2010:17). Berdasarkan keterangan tersebut, endorsement dapat dikategorikan sebagai sebuah periklanan.

Bentuk Endorsement dalam Islam

Pada dasarnya, endorsement dalam ekonomi Islam termasuk ke dalam kategori ujrah atau upah karena seseorang yang dibayar untuk mempromosikan suatu produk oleh sebuah bisnis. Ujrah di dalam kamus perbankan syariah yakni imbalan (fee) yang diberikan atau diminta atas suatu pekerjaan yang telah dilakukan. Ujrah dalam bahasa Arab berarti upah atau upah dalam penyewaan, sehingga masih termasuk ke dalam pembahasan Ijarah. Rukun ujrah terbagi menjadi 4 menurut jumhur ulama, yaitu: dua orang yang berakad, sighat (ijab dan qabul), upah atau imbalan, dan manfaat. Selain itu, Ulama Syafi`iyah juga berpendapat bahwa al-ijarah atau ujrah adalah suatu aqad atas suatu manfaat yang dibolehkan oleh Syara`, juga merupakan tujuan dari transaksi tersebut, dapat diberikan dan dibolehkan menurut Syara` disertai sejumlah imbalan yang diketahui.  Ujrah atau upah yang diberikan memiliki syarat-syarat yang harus dipenuhi. Upah merupakan pembayaran atas nilai suatu manfaat, sehingga nilainya harus dinyatakan dengan jelas. Oleh karena itu, upah harus berupa maal mutaqawwim, dan tidak boleh dibayar dengan barang yang dijadikan sebagai objek promosi.

Tidak hanya dari bentuk akadnya saja, dalam endorsement pun juga terdapat hal-hal lain yang harus diperhatikan, hukum asal dari endorsement adalah diperbolehkan selama dalam endorsement tersebut tidak terkandung hal-hal yang tidak sesuai dengan syari’at sehingga dapat mengubah hukum tersebut menjadi terlarang, seperti halnya produk yang diiklankan adalah produk-produk yang halal atau dapat memberikan manfaat baik, bukanlah produk-produk haram atau yang mengandung lebih banyak mudharat daripada manfaatnya, sesuai dengan yang terdapat pada surat Al-Maidah: 2, “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran”.

Selain itu, tidak diperbolehkan juga untuk mempromosikan barang-barang yang terdapat unsur manipulasi dalam pengiklanannya pun juga harus tetap memerhatikan hukum syari’at, dan nilai-nilai etika dalam Islam, sebagai contoh, seseorang yang dijadikan sebagai model harus tetap menutup auratnya dan jangan sampai menimbulkan pikiran negatif bagi orang lain yang melihatnya, seperti tidak menampilkan wanita yang ber-tabarruj. Sebagai salah satu contoh untuk menghindari terjadinya hal tersebut, bisa dengan cara menampilkan model berbusana muslim syar’i dengan tanpa menampilkan wajahnya apabila menjalani bisnis fashion muslim.

Begitulah peran Islam dalam mengatur kehidupan manusia. Tidak hanya dalam urusan agama saja, melainkan juga mengenai bagaimana kita menjalani hidup, dan juga berinteraksi dengan sesama manusia. Sesuai dengan surat Al-Baqarah: 208, “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu”. Wallahu a’lam.

Sumber :

Abdul Rahman Ghazaly, dkk. 2010. Fiqh Muamalat. Jakarta: Kencana. Ed. 1, Cet. 1.

Adityasari, Novi. 2015. Endorsement sebagai Tren Media Pemasaran dalam Perspektif Islam. Surabaya.

A.M, Morissan. 2010. Periklanan komunikasi pemasaran terpadu, Jakarta : Penerbit Kencana.

Armstrong dan Kotler. 1999. Prinsip- Prinsip Pemasaran. Jakarta: Erlangga.

Supriyono, Maryanto. 2011. Buku Pintar Perbankan. Yogyakarta: Andi.

Kertajaya, Hermawan dan Syakir Sula, Muhammad. 2006. Syariah Marketing. Bandung: Mizan Pustaka.