Ekonomi dalam Sudut Pandang Imam Al-Ghazali

Ekonomi dalam Sudut Pandang Imam Al-Ghazali

Laudza Rakin Taufiq – Staf Biro Bisnis dan Proyek, IBEC 2017

 

            Al-Ghazali memiliki nama lengkap Muhammad bin Muhammad bin Muhammad al-Ghazali al-Thusi. Beliau lahir Khurasan, Persia pada tahun 450H/1058M. Imam Al-Ghazali belajar mengenai fiqh kepada Ahmad bin Muhammad al-Ridzkani di Thus sampai usianya belasan tahun. Setelah itu beliau merantau ke Jurjan untuk berguru kepada Abu Nashr al-Isma’ili. Setelah itu beliau pulang ke Thus untuk belajar dan mempraktikkan ilmu Tasawuf dibawah bimbingan Yusuf al-Nassaj. Selanjutnya ketika beliau berumur dua puluh tahun, beliau kembali merantau ke daerah Naisabur untuk berguru kepada Abu al-Ma’ali Abdul Malik Ibn Abi Muhammad al-Juaini (Imam al-Haramain). Bersama Imam al-Haramain, al-Ghazali berhasil menguasai fiqh mazhab Syafi’I, fiqh Khilaf, ilmu perdebatan, ushul, manthiq, hikmah, dan filsafat.

Ketika Imam al-Haramain meninggal dunia, Al-Ghazali hijrah ke al-Askar di Baghdad dan berkenalan dengan wazir istana Dinasti Saljuk yaitu Sultan Jalaludin Malikshah (Nidzamul Malik). Karena kepintarannya, beliau diangkat menjadi pengajar di madrasah milik Nidzamul Malik di Baghdad. Maka berangkatlah Imam al-Ghazali ke Baghdad pada tahun 484H.

Pada tahun 488H, imam al-Ghazali meninggalkan jabatannya di Baghdad dan berangkat menuju Damaskus untuk mengasingkan diri dan berzuhud. Setelah beberapa tahun, beliau kembali ke kampung halamannya. Diakhir masa hidupnya, Al-Ghazali banyak menghabiskan waktu untuk mempelajari Shahih Bukhari dan Muslim. Sepanjang hidupnya Al-Ghazali banyak menulis kitab-kitab ilmu pengetahuan. Salah satu karya terbesarnya adalah Ihya Ulumuddin, yaitu kitab yang membahas tentang unsur Tasawuf dan Fiqh. Ihya Ulumuddin hingga saat ini masih sering digunakan dan dipelajari di seluruh dunia.

Ibnu Jauzi menceritakan kisah meninggalnya Imam al-Ghazali. Ia berkata bahwa ketika fajar terbit, al-Ghazali segera mengambil wudhu dan meminta kain kafan. Lalu beliau berkata “Aku telah siap memenuhi panggilan-Mu dengan ketaatan.” Kemudian al-Ghazali membujurkan kedua kakinya menghadap kiblat, dan meninggal dunia di usia 55 tahun pada hari Senin, 14 Jumadil Akhir 505H bertepatan dengan 19 Desember 1111M. Beliau wafat didesa asal kelahirannya.

Pemikiran Ekonomi Imam Al-Ghazali

Secara umumnya Imam Al-Ghazali memang terkenal dengan keahliannya dalam bidang Tasawuf dan Filsafat. Namun sama seperti kebanyakan ilmuwan Muslim lainnya, beliau juga memiliki keahlian diberbagai macam bidang, salah satunya adalah Fiqh Muamalah (ekonomi). Pemikiran Al-Ghazali terhadap ekonomi tertuang dalam karyanya, Ihya Ulumuddin, al-Mustashfa, Mizan al-Amal, dan at-Tibr al Masbuk fi Nasihat al Muluk. Bahasan ekonomi Al-Ghazali terbagi menjadi pertukaran dan evolusi pasar, produksi, barter dan evolusi uang, serta peranan Negara dan keuangan publik.

Melalui pemikirannya, Al-Ghazali membagi manusia menjadi tiga golongan, yaitu golongan orang yang mementingkan duniawi (orang-orang celaka), orang yang mementingkan urusan akhirat (orang yang beruntung), dan golongan orang yang sejalan antara dunia dan akhiratnya. Al-Ghazali menegaskan bahwa kegiatan ekonomi harus dilakukan dengan efisien dan setiap perdagangan harus dilaksanakan dengan cara terhormat. Karena sesungguhnya para pedagang pada hari kiamat akan dibangkitkan seperti para pelaku dosa besar kecuali mereka yang bertakwa kepada Allah dan berbuat kebaikan. Beliau juga melarang melakukan penimbunan barang dagangan untuk kemudian dijual kembali saat harga naik. Melalui tulisan-tulisannya Al-Ghazali juga mengenalkan konsep tsaman al-adil (harga yang adil) atau yang kita kenal sebagai equilibrium price (harga keseimbangan).

Imam Al-Ghazali juga memahami konsep mengenai permintaan, penawaran, elastisitas, dan inelastis. Seperti yang tertulis dalam karangannya “jika petani tidak mendapatkan pembeli, ia akan menjualnya dengan harga murah” (kurva penawaran), “harga dapat diturunkan dengan mengurangi permintaan” (kurva permintaan). Akan tetapi beliau sangat tidak setuju dengan pedagang yang mengambil keuntungan sangat besar. Menurut pandangannya, laba normal berkisar antara 5-10 persen dari harga barang. Beliau juga menekankan agar para pedagang harus termotivasi oleh keuntungan yang jauh lebih besar, yakni akhirat. Pasar harus bersih dari segala bentuk penipuan dan manipulasi harga. Pedagang juga harus bersifat lebih toleran terhadap orang miskin yang ingin berhutang, dan ikhlas menghapuskan hutang-hutang orang miskin sebagai bentuk sedekah.

Beliau juga melarang terjadinya riba dalam konsep barter dan penggunaan uang. Riba yang ditekankan adalah riba al-fadhl (terdapat kelebihan dalam pertukaran komoditi yang sama) dan riba al-nasiah (waktu penyerahan tidak segera). Namun jika pertukaran terhadap sesama logam (emas dan perak), hanya riba al-nasiah yang dilarang. Jika pertukaran antara komoditas yang berbeda (logam dan makanan) keduanya diizinkan.

Pemikiran Imam Al-Ghazali dalam perekonomian berdasarkan kepada konsep yang beliau sebut sebagai “fungsi kesejahteraan sosial”. Menurut Al-Ghazali maslahah dari suatu Negara bergantung kepada Maqashid asy-Syari’ah, yaitu:

  1. Hifdz Ad-Din (Memelihara Agama)
  2. Hifdz An-Nafs (Memelihara Jiwa)
  3. Hifdz Al’Aql (Memelihara Akal)
  4. Hifdz An-Nasb (Memelihara Keturunan)
  5. Hifdz Al-Maal (Memelihara Harta)

Seluruh pemikiran Imam Al-Ghazali yang tertuang dalam karya-karya beliau merupakan hasil kerjakerasnya dalam menuntut ilmu. Beliau tidak pernah menyerah untuk belajar, dan selalu bersemangat untuk mendapatkan pengetahuan baru sehingga akhirnya beliau berhasil menjadi orang yang dihormati karena ilmu pengetahuannya. Selain itu, beliau juga tidak pernah lupa untuk beribadah dan selalu merendah terhadap apa yang dimilikinya.

Sumber bacaan:

http://ejournal.iaisyarifuddin.ac.id/index.php/iqtishoduna/article/view/148

http://eprints.ums.ac.id/25704/12/NASKAH_PUBLIKASI.PDF