Dual Banking Leverage Model : Menunggangi Perbankan Konvensional untuk Memperluas Market Share Perbankan Syariah

Dual Banking Leverage Model : Menunggangi Perbankan Konvensional untuk Memperluas Market Share Perbankan Syariah
Muhammad Salman Arrifqy
Kepala Departemen Penelitian IBEC

Sepak terjang perbankan syariah di Indonesia diawali pada berdirinya Bank Muamalat pada tahun 1991 dan beroperasi pada 1992 setelah adanya UU No. 7 tahun 1992. Pada UU No. 10 Tahun 1998, yang secara tegas menjelaskan bahwa terdapat dua sistem dalam perbankan di tanah air (dual banking system), yaitu sistem perbankan konvensional dan sistem perbankan syariah. Peluang ini disambut hangat masyarakat perbankan, yang ditandai dengan berdirinya beberapa Bank Islam lain, yakni Bank IFI, Bank Syariah Mandiri, Bank Niaga, Bank BTN, Bank Mega, Bank BRI, Bank Bukopin, BPD Jabar dan BPD Aceh dll. Per April 2018 sudah terdapat 13 BUS, 21 UUS, dan 168 BPRS yang tersebar di seluruh Indonesia, jumlah ini dinilai meningkat cukup signifikan, jika dibandingkan dengan masa awal industri perbankan syariah berkembang.

Kinerja perbankan syariah di Indonesia sampai saat ini masih dinilai cukup baik, untuk BUS secara agregat tercatat rasio NPF Gross 4,84% , CAR 17,93%, ROA1,23% dan BOPO 89,75%. Sedangkan untuk UUS NPF gross sebesar 2,54%, ROA 2,47% dan BOPO 71,9%. Meskipun secara kinerja perbankan nasional dinilai cukup baik, terdapat tantangan utama yang harus dihadapi, yaitu perihal market share perbankan syariah nasional. Per April 2018 aset perbankan syariah tercatat mencapai 425,2 triliun atau sama dengan 5,76%  dari aset perbankan nasional, angka ini tidak banyak mengalami perubahan yang sinifikan dalam beberapa tahun belakangan. Kondisi ini tentunya menimbulkan banyak keprihatinan, mengingat Indonesia merupakan negara dengan jumlah muslim terbesar di Indonesia, yaitu mencapai 250 juta jiwa atau sekitar 70% dari total populasi nasional.

Terdapat beberapa opini mengenai lambatnya pertumbuhan industri perbankan syariah di Indonesia, salah satunya adalah cost of production yang tinggi, seperti biaya untuk pemasaran, pembukaaan kantor cabang, serta biaya untuk pengembangan teknologi dan fasilitas. Dengan adanya kendala ini, munculah sebuah model perbankan yang bernama ”Dual Banking Leverage Model” atau DBLM. Secara sederhana DBLM merupakan sebuah model perbankan, dimana divisi syariah dari suatu perbankan beroperasi secara parallel dengan platform konvensionalnya.

Dual Banking Leverage Model (DBLM) memiliki beberapa kelebihan. Pertama, unit usaha syariah dapat memanfaatkan infrastruktur dan sumber daya bank induknya, sehingga biaya yang dikeluarkan dapat lebih efisien. Kedua, dengan adanya DBLM maka setiap aspek internal perusahaan diharuskan memahami dan mendukung produk-produk syariah, karena sektor syariah juga menjadi aspek yang dinilai dari perusahaan induknya, atau dengan kata lain kinerja perbankan syariah juga mempengaruhi kinerja perbankan konvensional. Ketiga, nasabah yang memakai produk syariah memiliki fasilitas yang sama dengan produk konvensional, sehingga dapat menambah nilai jual dari produk perbankan syariah.

Dual Banking Leverage Model (DBLM) merupakan model bisnis perbankan yang dijalankan oleh UUS yang berada di Indonesia, salah satu pionir dari sistem ini adalah CIMB Niaga Syariah. Melalui sistem ini CIMB Niaga Syariah menorehkan kinerja yang sangat baik, pada akhir Desember 2017 pertumbuhan aset CIMB Niaga Syariah mencapai 85% menjadi 23,6 Triliun, total aset ini merupakan 9,3% dari total aset bank induknya yaitu Bank CIMB Niaga. Perusahaan yang menerapkan sistem DBLM sejak 2005 ini juga tercatat menghasilkan laba sebelum pajak sebesar 489.7 miliar, angka ini meningkat 60,3% dari tahun sebelumnya, yaitu Rp306,4 miliar.

Pandangan berbagai pihak terhadap sistem DBLM ini tidak selalu positif, terutama banyak yang meragukan tingkat shariah compliance bank yang menggunakan model bisnis ini, karena dengan tidak terpisahnya sektor konvensional dan sektor syariah dalam suatu bank, maka perputaran uang juga akan tercampur. Namun, hal ini ditepis oleh sebuah pandangan bahwa masyarakat tidak perlu ragu terjadinya percampuran bank syariah dan bank konvensional, karena sistem IT memisahkan pencatatannya. Di sini berlaku kaedah fiqh “tafriqul halal ‘anil haram” (memisahkan asset yang halal dari yang haram). Tentunya penerapan sistem DBLM ini memerlukan sistem koordinasi yang baik antara bank induk dan bank syariah, sistem IT serta SDM yang memadai, agar perkembangannya berjalan optimal.

Referensi :

Firdaus Ghalba, Harimukti Wandebori. 2013. PROPOSED BUSINESS STRATEGY FORMULATION FOR CIMB NIAGA SYARIAH

http://www.neraca.co.id/article/27596/Leverage-Model-Bank-Syariah

http://islamicfinance-global.blogspot.com/2015/04/dual-banking-leverage-model.html

https://www.cimbniaga.com/in/personal/news-and-promotions/news/CIMBNiagaSyariah-BukukanKinerjaPositif-Sepanjang2017.html