CSR dalam Akuntansi Islam

Oleh
Muhammad Rayhan Rakananda (Ilmu Ekonomi Islam 2019)
Staf Departemen Penelitian 2020

Sumber Jurnal:
Judul: Islam, Nature, and Accounting: Islamic Principles and the notion of accounting for the environment

Penulis: Rania Kamila, Sonia Gallhofer, Jim Haslam (2006)

Publisher: ScienceDirect

Latar belakang

Bagi para aktivis bisnis, kemungkinan sudah familiar dengan istilah CSR (Corporate Social Responsibility). CSR sudah menjadi kegiatan primer suatu perusahaan selain usahanya mencari profit, hal ini dikarenakan semakin meningkatnya tuntutan publik agar perusahaan lebih memperhatikan dampak sosial & lingkungan dalam kegiatan ekonomi mereka. CSR ini tidak lepas dari peran ilmu akuntansi yang berfungsi untuk melaporkan kegiatan CSR baik kepada internal maupun eksternal perusahaan.

Nah, sebenarnya Islam sendiri sudah menyampaikan konsep peduli sesama secara holistik dalam ajarannya. Di bidang lingkungan, ada 5 poin penting menurut Islam yang harus dipatuhi oleh muslim, yaitu tauhid, menghargai keindahan alam, perwalian/khalifah, cakupan ajaran Islam yang luas, serta prinsip komunitas/muamalah. Ketika menggunakan 5 prinsip ini, diharapkan aktivitas akuntansi sosial untuk CSR yang dilakukan perusahaan tidak hanya menguntungkan banyak pihak secara berkelanjutan, tetapi juga mendatangkan berkah karena mematuhi perintah Allah

Tujuan

Studi ini menyelidiki luasnya cakupan ajaran Islam terhadap ilmu Akuntansi kontemporer terkait CSR menggunakan 5 prinsip di atas.

Metode

Penulis melakukan studi ini dengan menggunakan banyaknya tinjauan literatur serta kembali pada beberapa ayat Al-Quran dan Hadits untuk menentukan relevansi ajaran Islam dengan kemampuannya menyelesaikan masalah lingkungan dan sosial.

Pembahasan

Salah satu konsep dasar dalam Islam adalah pertanggungjawaban. Bahwa kita, sebagai manusia, diminta untuk mempertanggungjawabkan perbuatan kita kepada Allah. Salah satu bentuk pertanggungjawaban di alam dunia adalah akuntansi, dimana merupakan proses pertanggungjawaban kegiatan perusahaan, baik kepada internal maupun eksternal. Jika suatu proses akuntansi transparan dan akuntabel, maka akan diberkahi oleh Allah sebagai salah satu bentuk pertanggungjawaban manusia. Kini, ketika CSR sudah menjadi tren di kalangan perusahaan, ilmu akuntansi juga dapat menjadi solusi dalam pelaksanaan CSR.

Pertanyaannya adalah, seberapa luas cakupan ajaran Islam terhadap Ilmu Akuntansi Kontemporer, terutama dalam proses CSR? Jawabannya ada pada lima prinsip ajaran Islam dalam dimensi lingkungan ini.

Pertama adalah Tauhid. kita dapat menyadari bahwa Allah-lah Tuhan satu-satunya, dan ini dapat mengacu kepada bertaqwa kepada-Nya. Salah satu bentuk taqwa adalah dengan memperhatikan seluruh makhluk-Nya di alam ini karena mereka semua memiliki kesempatan yang sama untuk ada, serta keberadaan mereka terkait satu sama lain. Dalam akuntansi, hal ini relevan dengan good governance yang baik dan setara baik dalam level makro maupun mikro. Selain itu, perusahaan diharapkan untuk membatasi diri dalam operasional mereka agar tidak semena-mena terhadap lingkungan dengan terbuka dalam pembuatan kebijakan.

Kedua adalah perwalian. Sebagai khalifah/wali di muka bumi, manusia “dititipkan” oleh Allah bumi ini dan seisinya untuk dijaga sesuai dengan syariat Islam. Allah sendiri akan memberikan pahala yang besar bagi mereka yang memakmurkan bumi ini. Jika dikaitkan ke akuntansi, maka akuntansi memiliki peran yang besar untuk merealisasikan hal itu. Akuntan / Mutashib dalam Islam bertugas tidak hanya dalam keuangan perusahaan, tetapi ada peran sosial di mana mereka harus memastikan agar kegiatan perusahaan tidak membahayakan lingkungan sekitar, terlebih lagi mengeluarkan eksternalitas negatif yang membahayakan.

Ketiga yaitu Prinsip komunitas/keumatan, di mana seorang muslim haruslah memperdulikan sesama manusia/ummat. Sebagai muslim, sudah menjadi kewajiban kita untuk memperdulikan orang lain, kita tidak bisa lepas dari itu. Hal ini berkaitan dengan moralitas kita, dimana tidak boleh egois, mementingkan kepentingan greater good sebelum personal good, dan peduli sesama. Dalam prinsip ini, mutashib bertugas mengatur kegiatan bisnis agar menguntungkan komunitas sekitar. Selain itu, mutashib juga harus akuntabel terhadap umma/stakeholder di sekitar perusahaan.

Keempat adalah Ajaran Islam dengan Cakupan Luas: Holistik & Masa Depan. dalam ajarannya juga sudah memperhatikan aspek masa depan jangka panjang secara holistik. Al Qardhawi (2000) menjelaskan bahwa salah satu konsep yang paling penting dalam Islam adalah solidaritas antar generasi. Dimana solidaritas yang dimaksud adalah setiap generasi menjaga sumber daya yang ada di bumi agar generasi setelah mereka masih bisa menikmati keindahan sumber daya tersebut. Peran mutashib sesuai peran ini beragam, salah satunya mengkoordinasikan akuntansi level makro dan mikro untuk mengetahui kegiatan mana yang berpotensi berkelanjutan. Selain itu, mutashib juga bertugas untuk melaporkan kegiatan perusahaan & kegiatan internal yang termasuk ke dalam konsumsi berlebih untuk dievaluasi secara internal.

Yang terakhir adalah Menghargai keindahan alam. Islam, kita juga disarankan untuk melihat alam, dan segala keindahannya. Lalu dalam keindahannya itu, kita mengingat Allah melalui ciptaan-Nya. Dengan begitu, maka kita akan lebih termotivasi untuk menjaga alam ini sebagai bentuk rasa cinta kita kepada Allah. Demikian pula akuntan, harus memasukkan poin ini sebagai mindset dari kegiatan akuntansi yang dilakukan, agar dapat mengerti apa yang menjadi tujuan utama, yaitu mencapai ridho-Nya dengan memuji keindahan ciptaan-Nya.

Kesimpulan

Islam sebagai agama memiliki cakupan yang luas. Tidak hanya diajarkan konsep spiritual, tapi juga sosial, ekonomi, dan lingkungan. Ajaran Islam dalam segi lingkungan ternyata sudah mencakup ilmu akuntansi kontemporer, terutama tentang CSR perusahaan. Kegiatan akuntansi dapat meningkatkan tanggung jawab perusahaan secara holistik ketika memakai perspektif Islam, dimana akuntansi yang dimaksud tidak sekadar pelaporan keuangan perusahaan, tetapi juga pelaporan non-keuangan perusahaan secara akuntabel.

Berdasarkan lima prinsip Islam tersebut, diharapkan akuntan/mutashib memiliki islamic worldview dalam bekerja, sehingga InsyaAllah mendatangkan manfaat seluas-luasnya dan mendapatkan berkah.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *