Baitul Maal Wa Tamwil: The Last Solution for Student Loan

Baitul Maal Wa Tamwil: The Last Solution for Student Loan

Oleh: Farras Farhan

Pada tahun 2017, amerika dikabarkan lagi lagi menelan hutang yang sangat besar. Namun kali ini, hutang tersebut bukan dalam bentuk housing bubble atau dalam bentuk technological bubble. Amerika serikat harus menelan hutang yang sangat besar akibat dari pengimplementasian student loan. Lantas muncul di benak kita, apa itu student loan?. Student loan adalah program biaya pinjaman untuk pelajar agar mereka bisa membayar biaya kuliah (Tuition Fee). Program ini didirikan oleh Amerika Serikat pada awalnya pada tahun 1950 dibawah Federal Reserve dalam bentuk program bernama National Defense Education Act. Ide awal dari ini adalah, memfasilitasi para kawula muda Amerika pada zaman itu untuk bisa melanjutkan Pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi lagi agar bisa memperbanyak lulusan matematika dan sains. Kenapa matematika dan sains? Karena pada tahun itu, Amerika sedang mengalami lomba dengan Rusia dalam hal aeronautika. Amerika pada kala itu dikejutkan dengan langkah besar Rusia yaitu meluncurkan satelit bernama Sputnik. Maka dari itu, Federal reserve mengeluarkan kebijakan ini untuk menyainginya. Dan hal ini terbukti manjur. Dalam 10 tahun saja, jumlah lulusan Pendidikan tinggi di amerika telah naik 3 kali lipat dari yang hanya 186.500 lulusan menjadi 432.058 lulusan. Setelah perang dingin usai, Amerika mengalami kenaikan biaya Pendidikan yang drastis dalam beberapa dekade. Pada tahun 1980, rata -rata biaya Pendidikan di Amerika hanya mencapai $3449. Namun pada tahun 2013, atau 5 dekade kemudian, biaya Pendidikan meroket tinggi mencapai $9733. Amerika Serikat ingin mencetak banyak sekali lulusan cemerlang agar bisa membantu negara dengan memberikan pinjaman pelajar. Pinjaman ini nantinya akan dibayarkan setelah mereka lulus dan sudah kerja dan sifatnya berbunga namun bisa dicicil. Pada awalnya gagasan ini merupaka ide yang praktikal, namun setelah 5 dekade berjalan, total hutang para pelajar di Amerika Serikat telah mencapai angka 825 Miliar USD. Ini hanya untuk tahun 2013, pada tahun 2017, Federal reserve melaporkan bahwa total hutang/kredit macet Amerika mencapai angka 13,15 Triliun USD. Angka yang sangat fantastis yang menyebabkan adanya lubang besar di hati finansial Amerika Serikat. Kenapa hal ini bisa terjadi? Karena pada dasarnya Amerika menerapkan ini semua berlandaskan asumsi. Asumsi mereka bahwa para pelajar bisa mendapatkan pekerjaan dan bisa membayar dengan cicilan. Padahal fakta lapangan tidak seperti itu. Ada banyak sekali faktor yang bisa membuat pelajar tidak mendapatkan pekerjaan seperti kurangnya soft skill, pribadi yang buruk, mental lemah, dan lainnya. Hal ini lah yang tidak diperhitungkan dan tidak ada sistem jaminan sebagai collateral.

Pada tahun 2017 kemarin, presiden Joko Widodo ingin menerapkan konsep student loan itu di Indonesia. Jokowi ingin menerapkan itu dengan niat mulia ingin membangun Pendidikan Indonesia. Namun apabila metode dan konsep implementasinya masih sama, maka nasib Indonesia masih berpotensi seperti Amerika.

Dalam pandangan ekonomi islam, sudah jelas sekali bahwa student loan dengan sistem berbungan merupakan hal yang sangat diharamkan. Karena pada dasarnya, student loan membebankan mahasiswa dengan utang yang jumlahnya terus meningkat yang seharusnya mahasiswa itu memiliki tugas untuk fokus belajar. Jika hal ini diterapkan, maka bukan tidak mungkin, potensi kredit macet dari Indonesia itu sendiri akan mencapai angka yang fantastis.

Maka dari itu diperlukan suatu sistem/skema yang baru. Skema yang bisa mewujudkan ide student loan yang mulia namun dijalankan dengan prinsip Syariah. Dari semua Lembaga yang ada, ada satu Lembaga keuangan islam yang bisa menjadi solusi dari masalah dilematik ini. Lembaga ini adalah Baitul maal wa Tamwiil. Mengapa Lembaga ini bisa menanggulangi masalah yang ada di student loan?. Karena Baitul maal wa Tamwiil atau BMT menggunakan sistem transaksi dan operasional berdasarkan syariat islam. Pedoman operasi BMT adalah Al-Quran dan As-Sunnah. 2 pedoman ini merupakan pedoman yang dianjurkan oleh Rasulullah SAW dalam menjalani kehidupan. Dengan mengikuti pedoman ini, BMT bisa mengeksplorasi opsi dan pilihan yang ada dan juga dapat mengembangkan beberapa produk yang dapat memberikan maslahah besar bagi umat manusia. Dalam konteks student loan, BMT dapat mengembangkan produknya menjadi 3 aspek

  1. Funding

Salah satu produk keuangan yang dapat dieksplorasi oleh BMT adalah dari sisi pendanaan. BMT selama ini memang terkenal dengan produknya yaitu pendanaan barang dengan akad murabahah. Namun, pada nyatanya, ada banyak sekali opsi yang dapat ditawarkan.

a) Akad Qardh Hasan

Al-Qardh secara bahasa dapat diartikan dengan sebagian pinjaman atau hutang, sedangkan Hasan artinya baik atau bijak. Jika digabungkan, maka Qardh Hasan adalah pinjaman yang baik.

Al-Qardh adalah suatu akad perjanjian pinjaman lunak antara penghutang dan peminjam yang diberikan atas dasar kewajiban, dengan dasar ta’awun (tolong menolong) kepada mereka yang tergolong lemah ekonominya. Peminjam juga berjanji akan membayar kembali kepada penghutang sama seperti nilai harta yang dipinjamkannya dan tidak lebih daripada itu, sesuai dengan kesepakatan. Jadi pinjaman yang diberikan itu adalah semata-mata suatu muamalah yang baik.

Adapun rukun sah akad Al-Qardh:

  1. Orang yang meminjamkan pinjaman (muqtaridh)
  2. Pihak yang memberi pinjaman (muqridh)
  3. Objek akad yang merupakan pinjaman yang dipinjamkan oleh pemilik kepada pihak yang menerima pinjaman (dana/qardh)
  4. Ijab qabul (sighah) perkataan yang diucapkan oleh pihak yang menerima pinjaman dari orang yang memberi barang pinjaman atau ucapan yang mengandung adanya izin yang menunjukkan kebolehan untuk mengambil manfaat dari pihak yang menerima pinjaman

Dalam hal ini, BMT bisa menjadi bridging antara Muqtaridh dan Muqridh, ataupun juga BMT bisa sebagai Muqridh-nya. BMT dianggap sebagai lembaga penjamin yang professional bisa berperan sebagai penghubung antara mereka berdua sekaligus sebagai pencatat dari hutang tersebut, namun tidak memiliki hak untuk mengambil sebagian harta ataupun margin dari dana pinjaman tersebut.

Selain itu, BMT dalam operasionalnya, berhak menyeleksi Muqtaridh dan Muqridh sebagaimana syarat dari akad Qardh Hasan itu sendiri. Pihak peminjam (Muqtaridh) merupakan orang yang berakal sehat dan mampu membayar kembali, artinya setiap orang yang berhak meminjam hendaknya harus disepakati terlebih dahulu bahwa ia adalah orang yang mampu membayar kembali pinjaman tersebut. Namun bila berhutang memang tidak mampu membayar utangnya pada waktu jatuh tempo. Orang yang mengutangi diharapkan bersabar sampai orang yang berutang mempunyai kemampuan, hal ini sesuai dengan firman Allah dalam surat Al-Baqarah 280.

Dalam fatwa DSN NO: 19/DSN-MUI/IV/2001, dalam konteks bank syariah, dinyatakan bahwa “LKS dapat meminta jaminan kepada nasabah bilamana dipandang perlu”[1] yang sejalan dengan pendapat Al-Subki. Selain itu juga “Nasabah al-Qardh dapat memberikan tambahan (sumbangan) dengan sukarela kepada LKS selama tidak diperjanjikan dalam akad.

b) Akad Musyarakah

Musyarakah (syirkah atau syarikah atau serikat atau kongsi) adalah bentuk umum dari usaha bagi hasil di mana dua orang atau lebih menyumbangkan pembiayaan dalam melakukan usaha, dengan proporsi pembagian profit bisa sama atau tidak. Keuntungan dibagi sesuai kesepakatan antara para mitra, dan kerugian akan dibagikan menurut proporsi modal. Transaksi Musyarakah dilandasi adanya keinginan para pihak yang bekerja sama untuk meningkatkan nilai asset yang mereka miliki secara bersama-sama dengan memadukan seluruh sumber daya.

c) Waqaf

BMT dapat menerima dana yang dihimpun melalui konsep Waqaf. Waqaf ini adalah dana yng dihimpun untuk keperluan umat dan telah diikhlaskan oleh pewaqaf. Contoh aplikasi dari Waqaf adalah, ada orang yang ingin mewaqafkan uangnya untuk Pendidikan, maka Waqaf itu dapat dialokasikan untuk dana Pendidikan atau untuk kebutuhan Pendidikan. Waqaf bisa menjadi solusi karena ada unsur keikhlasan disitu yang menambah berkah dari dana tersebut. Maka dari itu, dalam konteks pendanaan biaya Pendidikan, Waqaf dapat dijadikan salah satu opsi.

  1. Manajemen Risiko

Produk manajemen risiko dalam praktik BMT dapat dibagi menjadi 2 produk terkenal yaitu

  1. Kafalah

Kafalah merupakan akad tanggung menanggung yang telah dikenal pada masa Rasulullah. Secara bahasa, Kafalah merupakan beban penanggung pada tertanggung untuk memperoleh hak atau

pembayaran sejumlah utang.

 Kafalah ada dua macam:

  1. Kafalah jiwa: adanya kemestian pada pihak kafil untuk menghadirkan orang yang ia tanggung yang ia janjikan tanggungan (makful lahu)
  2. Kafalah harta: kewajiban yang harus dipenuhi kafil dengan pemenuhan berupa harta, terdapat 3 macam jenisnya:

1) Kafalah bi ad-dain, yaitu kewajiban membayar hutang yang menjadi tanggungan orang lain

2) Kafalah dengan materi atau kafalah dengan menyerahkan, yaitu kewajiban menyerahkan materi tertentu yang ada di tangan orang lain

 Rukun Kafalah:

  1. Ijab dari al-kafil;
  2. Al-kafil(penjamin) yaitu orang yang cakap bertindak hukum;
  3. Al-makfulatau al-madmun;
  4. Al-makful ‘anhu atau al-madmun‘anhu, yaitu orang yang dituntut atau debitor, baik masih hidup ataupun sudah wafat
  5. Takaful

Di Indonesia, asuransi Islam sering dikenal dengan istilah takaful. Kata takaful berasal dari ‘takafala-yatakafalu’ yang berarti menjamin atau saling menanggung. Muhammad Syakir Sula mengartikan takaful dalam pengertian muamalah adalah saling memikul risiko di antara sesama orang, sehingga antara satu dengan yang lainnya menjadi penanggung atas risiko yang lainnya.

Menurut Fatwa Dewan Syariah Nasional dalam fatwa DSN No. 21/DSN-MUI/X/2001, tentang Pedoman Umum Asuransi Syariah , disebutkan pengertian Asuransi Syariah (ta’min, takaful atau tadhamun) adalah : Usaha saling melindungi dan tolong menolong diantara sejumlah orang /pihak melalui investasi dalam bentuk aset dan/ atau tabarru’ yang memberikan pola pengembalian untuk menghadapi risiko tertentu melalui akad (perikatan) yang sesuai dengan syariah.

 Prinsip dasar

Prinsip dalam Asuransi Syariah adalah Ta’awanu ‘ala al birr wa altaqwa (tolong-menolonglah kamu dalam kebaikan dan takwa) dan atta’min(rasa aman).

 Premi

Setiap peserta diwajibkan untuk membayar premi perbulannya sesuai dengan akad.

Premi Asuransi Takaful tersebut akan dibagi menjadi tabungan peserta dan dana tabarru’ yang dikelola oleh perusahaan Asuransi Takaful dan dana yang berbentuk tabungan tersebut dapat diinvestasikan melalui tabungan baik di BMT maupun Bank Syariah untuk membiayai proyek-proyek yang tidak bertentangan dengan

syariah.

 Mekanisme pengelolaan dana

Setiap premi yang dibayarkan oleh peserta akan dimasukkan kedalam dua rekening yaitu :

  1. Rekening tabungan peserta

Adalah dana yang merupakan milik peserta yang dibayar atau dapat diambil oleh peserta apabila perjanjian berakhir, peserta mengundurkan diri, atau peserta meninggal dunia.

  1. Rekening khusus

Adalah rekening yang menampung seluruh dana tabarru (iuran kebajikan) dari para peserta yang telah diniatkan untuk dana tolong menolong ketika ada peserta lain yang ditimpa musibah. Dalam konteks student loan ini, musibah dapat dikategorikan sebagai kehilangan barang seperti laptop, hp, atau alat apapun yang menunjang kebutuhan mahasiswa.

 Keunggulan

Bila peserta mengundurkan diri sebelum perjanjian berakhir, maka akan mendapatkan semua rekening tabungan yang telah disetor dan bagian keuntungan atas hasil investasi rekening tabungan (mudharabah).

  1. Manajemen investasi

Dalam konteks Manajemen investasi, BMT dapat mengalokasikan dana operasional atau dana yang dihimpun dan dijadikan sebagai uang produktif bagi BMT itu sendiri. Ada banyak sekali produk investasi yang telah disediakan di saat ini seperti investasi dalam bentuk sukuk dan lainnya. BMT dapat mengalokasikan uangnya untuk membeli sukuk bunga ritel agar BMT memiliki aset atau memiliki uang produktif yang bisa didapat secara pasif. Dan juga di era teknologi ini, telah muncul banyak sekali platform p2p lending yang berbasis investasi. Platform P2P lending ini memiliki keunikan sendiri masing. Seperti contohnya, ada platform yang mengfokuskan invetasi dalam bidang pertanian, dan juga ada platform yang mengfokuskan investasi dalam perikanan. Platform atau wadah ini dapat dijadikan sebagai wadah investasi bagi BMT untuk terus mendapatkan passive income sambil membantu orang yang membutuhkan.

Dengan cara ini, maka aka nada banyak sekali pelajar di Indonesia yang dapat menempuh Pendidikan tanpa harus terkendala oleh biaya. Biaya memang merupakan faktor penting dalam Pendidikan, oleh karena itu, tidak seharusnya seseorang tertinggal hanya karena masalah biaya. Pembiayaan dengan cara ini apabila dapat diterapkan, inshaa allah akan memberi manfaat bukan hanya untuk pelajar, namun untuk seluruh komponen yang terlibat

Wallahu a’lam bisshawab

Sumber:

https://www.studentdebtrelief.us/news/rising-tuition-costs-and-the-history-of-student-loans/

https://www.forbes.com/sites/patrickwwatson/2018/02/26/the-real-reason-behind-the-student-debt-problem/#3fa518ed1f92

Sabrie, Hilda, dkk. 2015. Prinsip General Takaful System dalam Akad Asuransi Syariah demi Mencapai Kemashlahatan. Surabaya: Universitas Airlangga

Sholihah, Siti. 2010. Pelaksanaan Asuransi Takaful Dana Pendidikan /Fulnadi di PT Asuransi Takaful Keluarga Cabang Surakarta. Surakarta: Universitas Sebelas Maret

Beaver, W. (2008). The student loan scandal. Society. https://doi.org/10.1007/s12115-008-9093-5