Berbisnis dalam Islam

BERBISNIS DALAM ISLAM

Raden Roro Azka Nadhira

Kepala Biro Internal IBEC FEB UI 2018

Memiliki bisnis atau usaha yang menguntungkan adalah impian setiap insan. Memulai suatu bisnis pun dapat dilakukan oleh siapa saja, tidak memandang latar belakang pendidikan dan usia. Berdagang atau berbisnis adalah salah satu pekerjaan yang dianjurkan dalam Islam. Dengan dua alasan tersebut saja persaingan di dunia bisnis kini semakin ketat, para pebisnis pun melakukan segala cara agar bisnis yang dimilikinya tetap maju dan berkembang. Kali ini penulis akan membahas bagaimana konsep bisnis dalam Islam dan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam memulai bisnis.

Konsep Bisnis dalam Islam

            Dalam Islam, bisnis dapat dipahami sebagai serangkaian aktivitas bisnis dalam berbagai bentuknya yang tidak dibatasi jumlah (kuantitas) kepemilikan hartanya (barang/jasa) termasuk profitnya, namun dibatasi dalam cara perolehan dan pendayagunaan hartanya (ada aturan halal dan haram) (Yusanto dan Karebet, 2002: 18).

Untuk memungkinkan manusia berusaha mencari nafkah, Allah SWT melapangkan bumi serta menyediakan berbagai fasilitas yang dapat dimanfaatkan untuk mencari rezeki. Sebagaimana dikatakan dalam firman Allah Q.S. Al-Mulk ayat 15, “Dialah yang menjadikan bumi ini mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki Nya…”

 Di samping anjuran untuk mencari rezeki, Islam sangat menekankan (mewajibkan) aspek kehalalannya, baik dari sisi perolehan maupun pendayagunaannya (pengelolaan dan pembelanjaan, “Kedua telapak kaki seorang anak Adam di hari kiamat masih belum beranjak sebelum ditanya kepadanya mengenai empat perkara; tentang umurnya, apa yang dilakukannya; tentang masa mudanya, apa yang dilakukannya; tentang hartanya, dari mana dia peroleh dan untuk apa dia belanjakan; dan tentang ilmunya, apa yang dia kerjakan dengan ilmunya itu (HR. Ahmad)”.

Selain itu, Allah menyatakan dengan tegas menganjurkan mengenai kehalalan rezeki dan bagaimana membelanjakannya sebagaimana dalam Q.S. Al-An’aam ayat 141, “Dan janganlah kalian berbuat israf (menafkahkan harta di jalan kemaksiatan), sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat israf”

Perlu diketahui bahwa memaksimalkan keuntungan bukanlah tujuan utama dalam Islam. Memberikan maslahah (kesejahteraan) untuk sesama makhluk ciptaan Allah adalah tujuan utama dari berbisnis dalam Islam, sehingga memaksimalkan keuntungan bukan hal utama dalam berbisnis. Seperti yang dijelaskan pada Q.S. Al-An’aam: 141 bahwa manusia tidak seharusnya berbuat israf, maka dalam jual-beli pun tidak baik dilakukan dengan berlebihan.

Hal-Hal yang Perlu Diperhatikan dalam Memulai Bisnis

            Hal pertama yang perlu diperhatikan adalah niat. “Sesungguhnya amal perbuatan tergantung pada niat, dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan yang ia niatkan. Barangsiapa yang berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya maka ia akan mendapat pahala hijrah menuju Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa yang hijrahnya karena dunia yang ingin diperolehnya atau karena wanita yang ingin dinikahinya, maka ia mendapatkan hal sesuai dengan apa yang ia niatkan.” (HR. Al Bukhari dan Muslim). Dari hadist tersebut dapat dipelajari bahwa apa yang akan didapatkan manusia dari usahanya bergantung pada niat ia melakukan usaha tersebut. Apabila kita memulai bisnis dengan niat mendapatkan ridha Allah SWT agar dapat menafkahi hidup dan membawa kebaikan, niscaya apa yang didapatkan tidak hanya sekedar materi yang bernilai di dunia namun juga di akhirat.

Hal kedua yang perlu diperhatikan adalah mampu memecahkan tiga masalah inti dalam ekonomi. Masalah yang pertama adalah memutuskan apa yang akan diproduksi, dalam menyelesaikan masalah ini kita seharusnya memperhatikan produk apa yang dibutuhkan oleh masyarakat, dan mempertimbangkan manfaat dari produk yang semestinya memberikan kesejahteraan bagi masyarakat. Masalah yang kedua adalah memastikan bagaimana cara untuk memproduksi produk tersebut. Dalam menyelesaikan masalah ini sangat penting untuk mengawasi bahan baku, proses, sampai hasil akhir produk tersebut halal atau tidak termasuk dalam hal dan perbuatan yang dilarang dalam hukum Islam juga berkualitas baik. Masalah yang terakhir adalah memastikan produk tersebut terdistribusi kepada masyarakat yang menjadi target produksi, sehingga penentuan harga dapat disesuaikan dengan semua lapisan masyarakat, bahkan lebih baik apabila tidak ada intervensi dalam menentukan harga (apabila sudah terbentuk dalam pasar)

Hal ketiga yang perlu diperhatikan adalah memperhatikan etika dalam berbisnis. Hal yang paling utama adalah selalu berperilaku jujur. Karena dengan kejujuran, masyarakat akan memberikan kepercayaan, dimana tidak mudah mendapatkannya. Dengan berperilaku jujur pun dapat mengurangi gharar (ketidak jelasan) yang dilarang dalam hukum Islam. Selain itu, jujur juga diterapkan dalam menghitung timbangan ataupun apabila ada kecatatan dalam produk sehingga hal tersebut menunjukkan perilaku adil terhadap konsumennya. Sebagaimana dalam Islam kecurangan dan berperilaku tidak adil sangat dilarang.

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah produk yang dijual merupakan barang halal mulai dari dzatnya itu sendiri sampai proses mendapatkannya. Selain itu, produk tersebut adalah barang yang dimiliki sendiri atau bukan kepemilikan orang lain, sehingga akad jual beli yang terjadi sah. Selanjutnya sesuai dengan Q.S. Al-Munafiqun ayat 9, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang membuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi.” Sebagai orang yang beriman jangan sampai bisnis yang dijalankan menghambat dalam beribadah, apabila diniatkan dengan benar apa yang sedang dikerjakan akan menjadi ibadah juga namun dalam artian tidak sampai melalaikan ibadah wajibnya.

Kesimpulan

Untuk menjalankan suatu bisnis yang sesuai dengan hukum Islam terdapat beberapa hal yang perlu dilakukan. Pertama, kita harus memahami konsep bisnis dalam Islam itu sendiri, sehingga dapat mengevaluasi apakah hal tersebut benar-benar sesuai dengan apa yang akan kita tekuni selanjutnya. Selanjutnya terdapat beberapa hal yang diperhatikan diantaranya adalah meluruskan niat kita dalam memulai dan menjalankan bisnis untuk mendapatkan ridha Allah SWT akan rezeki-Nya dan agar mendapatkan maslahah (kesejahteraan) untuk semua; mampu menyelesaikan permasalahan ekonomi dimulai dari produk apa yang akan dijual, bagaimana memproduksinya, hingga target distribusi dari produk bisnis kita, dalam hal ini diperhatikan betul-betul kehalalan dari bahan mentah hingga bahan baku; beretika baik dalam bisnis, seperti selalu berperilaku jujur, tidak curang, dan adil; dan jangan sampai berbisnis membuat kita lalai dalam menjalankan ibadah Allah SWT dan terlena dengan harta dunia saja.

 

 

Referensi:

Yusanto, dkk. 2002. Menggagas Bisnis Islami. Jakarta: Gema Insani Press

Norvadewi. 2015. Bisnis dalam Prespektif Islam. Diakses pada 18 Juli (14.00).  https://media.neliti.com/media/publications/141373-ID-bisnis-dalam-perspektif-islam-telaah-kon.pdf

dalamislam.com. “15 Cara Berdagang Rasulullah Agar Sukses dan Berkah” https://dalamislam.com/info-islami/cara-berdagang-rasulullah

Muhammad Saifullah. 2011. Etika Bisnis Islami dalam Praktek Bisnis Rasulullah. Diakses pada 18 Juli (14.15). http://eprints.walisongo.ac.id/1942/1/Saifullah-Etika_bisnis_Islami.pdf