(Bai’ Najasy) Fake Demand dalam Kasus Kotemporer

Oleh: Nethania Khalisa & Natasya Nisaul Alfani

( BAI’ NAJASY) FAKE DEMAND DALAM KASUS KONTEMPORER

Rasulullah saw bersabda :

إِنَّ اللهَ هُوَ الْمُسَعِّرُ الْقَابِضُ الْبَاسِطُ الرَّزَّاقُ وَإِنِّي لأَرْجُوْ أَنْ أَلْقَى اللهَ وَلَیْسَ أَحَدٌ یَطْلُبُنِي بِمَظْلِمَةٍ فِي دَمٍ وَلاَ مَالٍ

“Sesungguhnya Allah-lah Zat Yang menetapkan harga, Yang menahan, Yang mengulurkan, dan yang Maha Pemberi rezeki. Sungguh, aku berharap dapat menjumpai Allah tanpa ada seorang pun yang menuntutku atas kezaliman yang aku lakukan dalam masalah darah dan tidak juga dalam masalah harta” . (HR Abu Dawud, Ibn Majah dan at-Tirmidzi).

          Dalil di atas menunjukkan bahwa harga sudah ditetapkan oleh Allah SWT. dan manusia dilarang melakukan kezaliman dengan melakukan manipulasi pasar. Manipulasi pasar adalah salah satu kegiatan yang dilakukan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab dengan mencampurtangani situasi pasar yang bebas dan adil sehingga kondisi dan situasi berpihak kepadanya.

          Manipulasi pasar yang dapat merusak ini memiliki jenis yang beragam, salah satunya adalah permintaan palsu atau bai’ najasy . Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah berkata,

وفي الشرع الزیادة في ثمن السلعة ممن لا یرید شراءها لیقع غیره فیها

“(Jual beli najasy) adalah menaikkan (penawaran) harga barang yang dilakukan oleh orang yang tidak ingin membeli barang tersebut dengan tujuan untuk menjerumuskan orang lain.” (Fathul Baari, 4: 355)

          Bai’ najasy merupakan salah satu bentuk manipulasi atau rekayasa pasar dalam permintaan atau demand atas suatu produk. Produsen akan menaikkan permintaan produk dengan merekayasa demand palsu yang kemudian akan menyebabkan kenaikan harga produk tersebut. Cara yang digunakan pun beragam, baik melakukan order fiktif, menyebar isu, hingga meminta kerabat atau teman melakukan pembelian “pancingan”.

Rasulullah SAW. bersabda:

نَهَى النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَیْهِ وَسَلَّمَ عَنِ النَّجْشِ

“Nabi Shallahu ‘alaihi wa sallam melarang dari jual beli najasy” (HR. Imam Bukhori).

          Hadist ini sangat menjelaskan bahwa Hukum bai’ najasy adalah Haram. Larangan bai’ najasy memiliki beberapa maqshad (tujuan) yaitu merusak harga pasar, salah satu modus penipuan dalam bisnis yang dapat merugikan mitra bisnis lain, dan selanjutnya dapat menimbulkan permusuhan antara sesama pelaku pasar.

          Bai’ najasy diharamkan dalam perdagangan karena tindakan penjual yang menyuruh orang lain untuk memuji barang dagangannya atau menawar dengan harga yang lebih tinggi, agar pembeli semakin tertarik untuk membelinya. Apabila pembeli ini terhasut oleh ajakan penawar sehingga membeli barang tersebut, terjadilah bai’ najasy dan efek yang terjadi adalah permintaan konsumen akan bertambah sehingga harga barang juga meningkat.Permintaan yang dihasilkan tidak tercipta secara alamiah tetapi karena rekayasa penjual.

          Para ulama menjelaskan bentuk praktik najasy, salah satunya menurut Sunan At-Tirmidzi yaitu seseorang yang telah ditugaskan menawar barang mendatangi penjual lalu menawar barang tersebut dengan harga yang lebih tinggi dari yang biasa. Hal itu dilakukannya di hadapan pembeli dengan tujuan memperdaya si pembeli. Sementara ia sendiri tidak berniat untuk membelinya, namun tujuannya semata-mata ingin memperdaya si pembeli dengan tawarannya tersebut. Ini termasuk bentuk penipuan. Ada pula menurut ‘Abdullah bin Abi Aufa berkata, “Pelaku praktik najasy adalah pemakan riba dan pengkhianat,” (HR al-Bukhari [2675]). Jika si penjual bekerja sama dengan pelaku najasy dan memberikan kepadanya komisi bila barang laku terjual dengan harga tinggi, maka ia juga turut mendapatkan bagian dalam dosa, penipuan, dan pengkhianatan. Bagaimana dengan bentuk praktik najasy pada masa kini?

          Perkembangan teknologi di era digital sekarang ini sangat berpengaruh terhadap berbagai sektor, salah satunya sektor ekonomi. Teknologi memacu banyak perusahaan startup berbasis digital bermunculan sehingga menghasilkan kemajuan perkembangan bisnis online di Indonesia . Dampak dari bisnis online pun sudah mulai kita rasakan yaitu, kita tidak lagi merasa kerepotan, lelah, hingga berpanas-panas untuk mendapatkan barang yang kita inginkan di sebuah toko. Kemudian, kita juga dapat memilih barang cukup dengan scrolling di sebuah website. Ditambah lagi, melakukan pembayarannya dengan transfer uang melalui atm atau e-money dan hanya tinggal menunggu kurir mengirim barang kita ke alamat tujuan.

          Lahirnya bisnis online menghasilkan berbagai strategi bisnis baru. Contoh strategi pemasaran yang sedang booming saat ini untuk menarik konsumen yaitu penjual melakukan endorsement kepada influencer di berbagai platform media sosial. Selain itu, banyak pula para penjual melakukan strategi untuk menarik konsumen berupa membeli followers untuk kepentingan akun bisnisnya dan menyuruh seseorang untuk memuji barang dagangannya atau testimoni palsu.

          Seringkali kita jumpai penawaran “beli followers dan likes ” pada platform media sosial. Ada individu yang membeli followers untuk kepentingan pribadi, ada juga pihak yang membeli followers untuk kepentingan bisnis. Hukum jual beli followers dikhawatirkan akan jatuh pada hal yang terlarang dengan konsekuensi yang berbeda, sesuai dengan tujuan dan maksud dari pembelian itu tersendiri.

          Apabila seseorang membeli followers untuk sosial media pribadi tanpa ada tujuan transaksi di dalamnya, seperti untuk menaikkan kepercayaan diri atau meninggikan status sosial, maka hal ini tidak termasuk ke dalam kategori bai’ najasy . Namun, perilaku ini juga termasuk ke dalam perbuatan tercela yang biasa disebut khid’ah atau penipuan kepada orang lain terhadap diri kita. Perbuatan seperti ini juga menghambur-hamburkan harta untuk hal yang tidak dibutuhkan dan termasuk perbuatan tabdzir , sedangkan larangan tabdzir sudah jelas dilarang dalam Al-Quran.

لا تُبَذِّرْ تَبْذِیرًا إِنَّ الْمُبَذِّرِینَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّیَاطِینِ

“Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan .” (QS. Al Isro’ [17]: 26-2)

          Beberapa individu membeli followers dan likes agar terlihat memiliki platform yang luas sehingga online shop berminat untuk melakukan kerjasama endorsement atau paid promote dengannya. Tidak jarang juga meminta atau membeli komen palsu dari teman maupun kerabatnya. Kondisi seperti ini termasuk ke dalam kategori bai’ najasy karena pelaku memalsukan ketertarikan terhadap jasa yang Ia tawarkan (bentuk demand dari endorsement dan paid promote ) dan mendapatkan keuntungan darinya.

          Sedangkan, ketika akun media sosial yang dipergunakan untuk bisnis membeli followers, ada dua kemungkinan di dalamnya. Pertama, apabila membeli followers hanya untuk memperbaiki citra perusahaan/bisnis, sehingga ketika ada kenaikan permintaan perusahaan tidak meningkatkan harga dan memperbesar keuntungan, maka hal ini bukanlah bai’ najasy , namun tetap termasuk ke dalam penipuan ( khid’ah ). Kemungkinan kedua, pelaku bisnis membeli followers dan likes dengan guna merekayasa minat pasar atau permintaan terhadap produk, sehingga di kemudian hari penjual dapat menaikkan harga yang disebabkan oleh tingginya demand. Maka jelas ini termasuk bai’ najasy dan jelas pula keharamannya.

          Selain membeli followers dan likes , contoh bai’ najasy selanjutnya adalah penjual membuat testimoni palsu. Kasus ini dapat kita jumpai di online shop media sosial seperti instagram, facebook hingga berbagai macam e-commerce. Sebuah testimoni pada dasarnya adalah pengakuan atau dukungan terhadap suatu bisnis dari konsumen yang merasa puas. Hal ini bertujuan untuk meyakinkan pembeli lain bahwa produk online shop tersebut berkualitas dan memiliki kelebihan dibanding produk lainnya.

          Namun sangat disayangkan bahwa pada kenyataannya strategi ini disalahgunakan oleh beberapa online shop zaman sekarang. Mereka bekerja sama dengan orang terdekatnya, kerabat atau temannya atau bahkan membeli jasa testimoni untuk membuat testimoni palsu, seakan-akan murni dari pembeli umum. Kasus ini tidak lain bertujuan untuk menarik minat dan meyakinkan konsumen bahwa produknya sangat berkualitas dan patut dibeli. Testimoni palsu sama halnya dengan kasus foto atau video palsu. Perilaku muamalah seperti ini dalam Islam masuk ke dalam kategori penipuan. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW. : “Kenapa engkau tidak meletakkannya di atas agar bisa dilihat oleh pembeli? Barangsiapa yang menipu, ia bukan termasuk golonganku. (Hadits riwayat Muslim dan Turmudzi)”

          Seiring berjalannya zaman, strategi pemasaran akan berubah mengikuti perkembangan pengetahuan dan teknologi. Kasus penipuan dalam jual beli di zaman Rasulullah pun mungkin sangat berbeda dibandingkan zaman sekarang. Namun jika tujuannya untuk meningkatkan minat konsumen dengan menggunakan cara yang tidak baik atau tidak sesuai syari’ah seperti testimoni palsu, tetap saja dinamakan penipuan, dan penipuan sangat dilarang dalam Islam karena akan merugikan orang lain. Selain itu, kasus ini juga termasuk ke dalam bai’ najasy karena memanipulasi pasar, seakan-akan produk yang dijual banyak peminatnya sehingga mempengaruhi konsumen yang lain, maka ketika permintaan meningkat, penjual dengan seenaknya dapat menaikan harga barang.

          Bagaimana dengan celebrity endorsement yang sering kita lihat di sosial media? Bolehkah hal ini dilakukan? Untuk menjawabnya, perlu kita ketahui latar belakang dan bentuk perjanjian yang disetujui oleh kedua belah pihak. Pada umumnya, celebrity endorsement atau paid promote, pelaku bisnis ingin bisnisnya lebih dikenal dan tersebar melalui media sosial sah saja untuk dilakukan sebagai salah satu strategi pemasaran. Pada situasi seperti ini, artis atau pihak yang di- endorse harus memberikan review yang jujur. Pemilik bisnis hanya menyewa jasa untuk mempromosikan dan/atau mengutarakan pendapatnya mengenai produk tersebut sehingga produk dan nama bisnisnya menjadi dikenal dan banyak pelanggan yang tertarik.

          Pada hakikatnya, pihak yang di- endorse harus merasakan dan mengetahui kelebihan, faedah, dan manfaat dari benda atau jasa yang ia iklankan. Akan tetapi, banyak pula bentuk endorsement atau paid-promote yang tidak jujur. Pihak yang di- endorse dibayar untuk mempublikasikan produk dengan teks atau naskah yang direncanakan, sehingga tidak lagi menjadi review yang jujur dan murni. Apabila ini informasi palsu, maka hal ini akan termasuk ke khobar mukhti’ah atau misleading information yang dilarang dalam Islam.

          Berdagang adalah suatu profesi yang dianjurkan oleh Rasulullah, Diriwayatkan oleh Ibrahim Al Harbi dalam Ghorib Al Hadits dari hadits Nu’aim bin ‘Abdirrahman,

تِسْعَةُ أَعْشَارِ الرِزْقِ فِي التِّجَارَةِ

“Sembilan dari sepuluh pintu rejeki ada dalam perdagangan”.

          Akan tetapi, manusia yang merupakan tempat salah dan lupa sering lalai dalam memilah mana yang boleh dan mana yang tidak. Banyak pula hal yang masih abu-abu seiring dengan perubahan zaman dan kebiasaan masyarakat.

          Mubah hukumnya untuk mencari keuntungan dan pembeli dalam berdagang. Namun, cara mendapatkannya lah yang menjadi riskan untuk terjatuh ke dalam lubang kesalahan. Di antara cara mendapatkan keuntungan dan pembeli yang dilarang dalam Islam adalah manipulasi pasar serta bai’ najasy yang sudah dijelaskan di atas beberapa contoh kasusnya pada masa kini. Menjadi penjual seharusnya memberikan informasi yang benar dan melakukan transaksi jual beli sejujur-jujurnya kepada pembeli, agar tidak hanya mendapatkan keuntungan untuk dunia semata tetapi juga meraih keberkahan akhirat.

REFERENSI
Wulandari, C., & Zulqah, K. A. (n.d.). Tinjauan Islam terhadap Mekanisme Pasar dan Penanganan Distorsinya. Retrieved from https://ejournal.upnvj.ac.id/index.php/JIEFeS/article/view/1923
Sasongko, A. (2017, October 10). Tabdzir. Retrieved from https://republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/17/10/10/oxlxn5313-tabdzir
Yolanda, F. (2019, March 05). Konsultasi Syariah: Rekayasa Permintaan (Bai’ Najasy). Retrieved from https://www.republika.co.id/berita/ekonomi/syariah-ekonomi/pnvwze370/konsultasi-syariahrekayasa-
permintaan-embai
Tuasikal, M. A., By, -, Tuasikal, M. A., & Lulusan S-1 Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada Yogyakarta dan S-2 Polymer Engineering (Chemical Engineering) King Saud University. (2014, December 11). Hidup Boros, Temannya Setan. Retrieved from https://rumaysho.com/1813-hidup-boros-temannya-setan.html
Post author Review by : Redaksi Dalamislam. (2018, November 12). Hukum Menipu Dalam Islam dan Dalilnya. Retrieved from https://dalamislam.com/hukum-islam/hukum-menipu-dalam-islam
Tuasikal, M. A., By, -, Tuasikal, M. A., & Lulusan S-1 Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada Yogyakarta dan S-2 Polymer Engineering (Chemical Engineering) King Saud University. (2013, December 14). 9 dari 10 Pintu Rizki di Perdagangan. Retrieved from https://rumaysho.com/1441-9-dari-10-pintu-rizki-di-perdagangan.html
Erliani, L. (2020). 13. Retrieved 15 May 2020, from https://journal.staialmaarifwaykanan.ac.id/index.php/falah/article/download/11/11
SUDIARTI, S. (2018). 292. Retrieved October 2018, from http://repository.uinsu.ac.id/5517/1/FIQH%20MUAMALAH%20KONTEMPORER.pdf

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *