Analisis Kebijakan ‘Shorter Workweeks’ dan Bagaimana Jika Diterapkan di Indonesia (Ditinjau dari Degrowth dan Green Growth serta Kaitannya dengan Ekonomi Islam)

Oleh: Yuke Fatihaturrahmah

 

I. Pendahuluan

Gambar 1.Tangkapan satelit NASA: Tingkat NO2 di China

Sumber: businessinsider.sg/Pada awal Maret tahun 2020, NASA dan Badan Antariksa Eropa merilis penampakan kondisi udara yang terdeteksi satelit. Diungkapkan bahwa polusi udara di Tiongkok (yang menerapkan ‘lockdown’) menurun secara signifikan selama bulan Februari (dapat dilihat dari gambar 1) (Ghosh, 2020; Widyaningrum, 2020). Terutama pada kadar nitrogen dioksida (NO2)—gas yang biasanya dikeluarkan oleh mobil, truk, pembangkit listrik, dan pabrik, yang dapat menyebabkan gejala pernapasan dan asma (Ghosh, 2020). Dimana Marshall Burker dari Stanford University yang melakukan kalkulasi tingkat polusi udara tersebut, menyebutkan bahwa secara tidak langsung ini dapat menyelamatkan nyawa warga Tiongkok dari paparan polusi. Sejalan dengan hal tersebut, Jos Lelieveld, ahli fisika dari Cyprus Institute menuturkan bahwa tingkat kematian akibat polusi udara ternyata dapat melebihi malaria dan HIV/AIDS, alkohol, rokok bahkan narkoba (Widyaningrum, 2020).

Jika lockdown adalah bentuk ekstrimnya, maka pada kondisi normal pun penurunan tingkat polusi akibat pengurangan aktivitas ekonomi telah menjadi concern dan mulai diterapkan melalui shorter workweeks. Dimana ini merupakan salah satu bentuk dari pergeseran paradigma pada ekonomi pembangunan yang mengarah pada “beyond than GDP growth”. Dikarenakan mempertimbangkan faktor-faktor lain diluar PDB, yang dapat dianalisis dari sudut pandang Green Growth dan Degrowth. Oleh karenanya, pada bagian kedua esai ini akan dibahas kerangka konsep dari shorter workweeks, green growth, dan degrowth. Juga hasil analisis yang dikaitkan dengan pendekatan pembangunan berkelanjutan dari Aris Ananta, nilai inti dari pembangunan, koselarasan dengan nilai Islami, dan bagaimana jika diterapkan di Indonesia. Dan terakhir, akan dielaborasi menjadi kesimpulan juga saran untuk kebijakan shorter workweeks ini.

II. Isi

2.1 Kerangka Konsep dan Empiris

Menurut Gough (2017) dan O’Neill (2018), salah satu pendorong utama terjadinya kerusakan ekologi bumi adalah berbagai upaya untuk selalu mengejar pertumbuhan ekonomi, yang ditandai dengan peningkatan emisi dan semakin menipisnya sumber daya non-terbarukan (Büchs & Koch, 2019). Tim Jackson dalam bukunya yang berjudul “Prosperity Without Growth” menggagas adanya kontradiksi dari dua pihak terhadap pertumbuhan ekonomi. Dimana perekonomian yang tak berkembang adalah kutukan bagi pelaku ekonomi, di sisi lain, gagasan pertumbuhan ekonomi yang terus meningkat pesat adalah kutukan bagi pegiat lingkungan—karena tidak ada turunan dari sistem terbatas yang dapat berkembang tanpa batas (Smedley, 2019).

Terkait upaya untuk menyelamatkan bumi dari perspektif ekonomi dinilai telah disokong oleh beberapa pemikiran, di antaranya ekonomi hijau (green growth) dan lebih radikal dengan ‘degrowth’. Keduanya memiliki persamaan berupa mendukung gagasan diterapkan kebijakan “shorter workweeks”—pengurangan jam kerja. Perbedaannya terletak pada: bagi ‘ekonomi hijau’ diperlukan sedikit pengurangan jam kerja tanpa pengurangan upah serta mengupayakan efisiensi teknologi dan energi, sehingga perekonomian tetap dapat bertumbuh. Namun bagi ‘degrowth’, dengan tegas menolak pengejaran utama pada pertumbuhan ekonomi serta meyakini bahwa hanya dengan pemotongan upah dan hari kerja yang dapat mewujudkan ‘nol’ emisi karbon pada tahun 2050—berdasarkan Perjanjian Iklim Paris 2015 (Nursya’bani, 2018; Smedley, 2019).

2.1.1 Shorter workweeks

Kebijakan shorter workweeks ini sedang menjadi tren di Benua Biru. Seperti Jerman dan Swedia yang mulai menerapkan pengurangan jam kerja dari 8 jam menjadi 6 jam per hari (SPN, 2018). Adapun di Inggris, pengurangan jam kerja dengan standar upah yang sama dinilai lebih efektif ketimbang memotong upah dengan kompensasi tambahan hari libur. Hal ini karena sebagian besar pekerja tetap tidak ingin adanya pemotongan gaji dengan tambahan hari libur. Yang merujuk pada pegawai pos Inggris dengan standar upah yang tidak menurun, dari 39 jam menjadi 35 jam per minggu (Smedley, 2019). Dan menjelang akhir tahun 2019, Partai Buruh Inggris menggagas wacana a-Four Day Week (empat hari kerja dalam satu minggu).

2.1.2 Degrowth

Istilah “degrowth” dicetuskan oleh cendekiawan ekologi politik, André Gorz, pada tahun 1972, dan pada tahun 2012 dipopulerkan kembali oleh Erik Assadourian—peneliti senior dari Worldwatch Institute (Hijauku.com, 2012; ISA, 2019). Menurut Erik dapat didefinikan sebagai upaya mengarahkan ekonomi guna mencapai target di luar pertumbuhan ekonomi— mendorong peningkatan konsumsi yang hanya akan menambah beban hutang, beban kerja, masalah kesehatan (seperti obesitas), ketergantungan terhadap obat-obatan, isolasi sosial dan penyakit sosial lainnya. Menurut Latouche, degrowth bukanlah resesi atau pertumbuhan negatif, sebaliknya, dapat dipadankan dengan ‘konsumsi makanan sehat’ secara sukarela untuk meningkatkan kesejahteraan seseorang, sementara ekonomi negatif dapat dibandingkan dengan kelaparan (Assadourian, 2012). Ini juga menyiratkan adanya redistribusi kesejahteraan yang adil, baik di dalam maupun di segenap Global—Utara dan Selatan (lintas negara), maupun lintas generasi: sekarang dan di masa yang akan datang (ISA, 2019).

Berdasarkan Smedley (2019) pendukung degrowth mengacu pada buku—”Limits to Growth” (1972), yang ditemukan bahwa pada tahun 2072, sumber daya alam akan habis yang dapat memicu penurunan drastis populasi serta kapasitas ekonomi. Ditambah dengan fakta bahwa gabungan konsumsi dari negara anggota OECD meningkat hampir 50% selama 1990- 2008, dimana untuk setiap kenaikan PDB sebesar 10% setara dengan melonjaknya jejak karbon hingga 6%. Oleh karenanya, Milena Buchs dari University of Leeds berujar bahwa diperlukan pengurangan upah dikarenakan konsumsi waktu luang meningkat akibat minggu kerja pendek dan dengan upah yang tetap maka konsumsi dan emisi juga dapat bertambah.

2.1.3    Green Growth

Ini menekankan gagasan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan (sustainable). Yang selaras dengan penuturan Will Stronge (dari lembaga pengkaji Autonomy), dimana ketika akhir pekan dan hari libur perbankan mengakibatkan konsumsi listrik nasional menurun (efisiensi energi) secara signifikan (Smedley, 2019). Sejalan dengan artikel BBC Future, dimana Alice Martin, Head of Work and Pay di New Economics Foundation menyebutkan bahwa dengan memangkas 20% jam kerja karyawan, dapat menurunkan emisi karbon dalam persentase yang sama. Argumentasinya didasari pada perubahan pola perilaku ketika memiliki lebih banyak leissure time (dapat lebih banyak melakukan hal yang digemari), maka dapat menghentikan konsumsi produk berkarbon tinggi (seperti mengurangi perjalanan dan menyantap makanan rumahan ketimbang fast food) (Smedley, 2019).

III. Analisis dan Hasil

Pada bagian ini merupakan hasil analisi terkait shorter workweeks yang dinilai sebagai wujud green growth dan degrowth untuk dikaitkan dengan beberapa konsep pembangunan lainnya, bagaimana dampaknya yang dapat dianggap sebagai kelebihan dan kekurangannya, korespondensi dengan ekonomi Islam, dan bagaimana bila diterapkan di Indonesia.

3.1   Berdasarkan konsep pembangunan berkelanjutan dan Dampaknya


Gambar 2. Ananta’s Sustainable Development Approach
 

Sumber: Kuliah 1 Ekonomi Pembangunan Islam: “An Introduction” [FEB UI, 2020]

Konsep Ananta’s Sustainable Development Approach terhadap kebijakan shorter workweeks, secara umum dapat dilihat dari tiga tujuan utama yang saling berhubungan dan resiprokal (dapat dilihat dari gambar 2). Pertama, pembangunan yang ramah lingkungan di mana baik dari perspektif degrowth ataupun green growth. Kebijakan tersebut dianggap dapat mendorong efisiensi energi dan penurunan polusi udara (berdasarkan penjelasan pada bagian kedua—kerangka konsep dan empiris).

Kedua, berorientasi pada pembangunan manusianya yang selaras dengan nilai inti (core value) dari pembangunan, yaitu (a) sustenance, dimana kebijakan ini dari pandangan degrowth berkesesuaian dengan nilai moral ‘eudaemonisme’—melalui kegiatan berbasis kebutuhan untuk mencapai kebahagiaan paripurna (kesejahteraan) sebagai akibat dari optimalisasi potensi manusia (Büchs & Koch, 2019; KBBI, 2019). Dimana dengan shorter workweeks dapat memitigasi perubahan iklim yang berarti dapat turut andil dalam menjaga masa depan hak generasi anak-cucu umat manusia untuk pemenuhan kebutuhan dasar yang terkait dengan keamanan pangan dan air serta lingkungan yang aman (Büchs & Koch, 2019). Dengan kata lain, mendorong terjadinya redistribusi kesejahteraan lintas generasi.

Selanjutnya (b) self-esteem dan (c) freedom from servitude, berarti menjadi seseorang manusia yang bebas memilih menggunakan waktu luangnya (leisure time) untuk mencapai kebahagiaan diri sendiri dan keluarganya. Karena panjangnya jam kerja bukanlah sebuah tolak ukur produktivitas kerja yang baik, dimana kecenderungan menunda-nunda (procrastination) dapat sering terjadi akibat ingin memaksimalkan waktu untuk menyelesaikan pekerjaannya. Sejalan dengan penelitian dari Huffingtonpost.co.uk, jika bisa menyelesaikan dan pulang lebih cepat, maka pekerja akan memaksimalkan waktu untuk yang lain, di sisi lain jika terlalu banyak lembur pekerja akan cenderung melakukan banyak kesalahan (SPN, 2018). Dan fakta menunjukkan bahwa negara maju cenderung memiliki jam kerja lebih rendah. Mengutip data dari Our World in Data, Amerika Serikat sebagai negara dengan PDB per kapita hampir 15 kali Indonesia, seminggunya menghabiskan waktu untuk bekerja sekitar 34 jam (Citradi, 2019).

3.2 Analisis terhadap Kondisi Indonesia

Berdasarkan ILO dari UU Nomor 13 tahun 2003, jumlah jam kerja di Indonesia terbagi menjadi dua jenis, yaitu untuk (1) enam hari kerja: 7 jam kerja per hari atau 40 jam kerja per minggu; dan (2) lima hari kerja: 8 jam kerja per hari atau 40 jam kerja per minggu. Dan berdasarkan Peraturan Menteri no.102/MEN/VI/2004, waktu kerja lembur dapat dilakukan paling banyak 3 jam per hari dan 14 jam dalam 1 minggu (diluar istirahat mingguan atau hari libur resmi). Menurut laporan ILO, negara-negara ASEAN merupakan negara dengan jam kerja terlama di dunia—rata-rata menghabiskan waktu 43 jam untuk kerja dalam sepekan (Citradi, 2019). Hal ini menandakan Indonesia termasuk rendah di antara negara di Kawasan Asia Tenggara.

Namun menjelang akhir tahun 2019, pengusaha Indonesia mengusulkan untuk menaikkan jam kerja dari 40 jam menjadi 48 jam sepekan (Citradi, 2019). Tentunya hal ini sangat disayangkan. Karena berdasarkan pemaparan sebelumnya, terdapat beragam dampak positif yang dapat dirasakan ketika menerapkan jumlah jam kerja yang tidak terlalu membebani pekerjanya atau bahkan menurunkan jumlah jam kerja per minggunya.

Menurut penulis, kebijakan pada jam kerja selama 40 jam sepekan dapat dipertahankan, di sisi lain shorter workweeks belum bisa diterapkan. Jika diterapkan tidak akan cukup signifikan terkait dampak positif yang dihasilkannya, baik terhadap ekonomi, lingkungan, maupun sosialnya. Dikarenakan ini dinilai berkaitan dengan degrowth, yang sering disalahartikan sebagai bentuk ‘radikalisme’—pertumbuhan negatif. Alhasil akan menimbulkan polemik di Indonesia dan kemungkinan akan sulit untuk diterima penerapannya. Ditambah dari struktur dan komposisi tenaga kerja Indonesia, yang meskipun pada sisi pekerja formal telah menunjukkan tren positif per tahunnya (ditunjukkan oleh grafik pada gambar 3). Namun tetap masih didominasi oleh sektor informal yang setiap tahunnya mengalami peningkatan, sementara shorter workweeks cenderung dapat diterapkan di sektor formal

Gambar 3. Grafik Jumlah Pekerja Formal dan Informal di Indonesia, 2015-2019

Sumber: Lokadata.beritagar.id, diolah (dari Sakernas BPS)

3.3 Keterkaitan dengan Ekonomi Islam

Islam memiliki worldview terhadap manusianya sebagai homo Islamicus yang berjiwa ‘huquq’ (multi-interest), dua di antaranya mempertimbangkan kepentingan individu-individu lain (social) dan lingkungan (environment). Juga orientasi Islami yang mengedepankan ‘maslahah’ dalam segala aktivitas kehidupan, termasuk ekonomi. ‘Huquq’ dan ‘maslahahoriented’ ini dapat dikatakan berkesesuaian dengan shorter workweeks, sebagai salah satu bentuk pembangunan berkelanjutan yang menyadari adanya batasan dalam utilisasi alam sebagai pertimbangan kebaikan untuk generasi selanjutnya. Ini  selaras  dengan  green  growth yang memasukan kemampuan lingkungan sebagai mekanisme koreksi atas kekurangan konsep pertumbuhan mainstream. Dan juga konsep degrowth yang mendefinisikan kembali ekonomi dengan tidak hanya mengukur ekonomi secara moneter namun juga kebutuhan manusia (needs-based untuk ‘maslahah’) dan kemampuan alami alam (sebagai faktor produksi) untuk mendukung kehidupan manusia (MES-UK, 2019). Dengan kata lain, menandakan modal, tenaga kerja, dan alam memiliki hierarki yang satu level.

IV. Kesimpulan dan Saran 

Paradigma pola dan bentuk pembangunan ekonomi mulai bergeser ke arah yang berorientasi pada ‘maslahah’ (berkorespondensi dengan Islam) melalui nilai berkelanjutannya. Tidak hanya mengutamakan pengejaran pertumbuhan dan pembangunan yang diukur secara moneter saja, tetapi juga memperhitungkan unsur lain yang hidup berdampingan dengan dan menjadi penopang kehidupan manusia, yaitu lingkungan. Salah satu bentuk kebijakan yang mengusung sustainability adalah shorter workweeks yang dinilai selaras dengan konsep green growth dan degrowth. Yang memiliki beragam dampak positif, baik secara makro ataupun mikro, untuk generasi saat ini ataupun mendatang, dan lintas negara. Namun, saat ini dinilai belum dapat diterapkan di Indonesia dikarenakan struktur dan komposisi tenaga kerja juga budaya kerja di negeri ini.

Kemudian, penulis mempertimbangkan sebuah saran yang dikutip dari jurnal Büchs & Koch (2019), yang mengusung perlunya sebuah forum musyawarah regular global tentang berbagai isu yang tengah dihadapi (salah satunya isu lingkungan-ekonomi dengan mengangkat topik diskusi ‘shorter workweeks’ ataupun ‘green growth’ dan ‘degrowth’). Hal ini dinilai dapat mendorong adanya dialog dari tiga “strategi ganda”, yaitu pakar dan warga negara, negara miskin dan kaya, generasi sekarang dan mendatang. Yang pada prosesnya dapat membantu dalam paradigm shifting pembangunan ekonomi ke arah berkelanjutan dan mencari solusi dari berbagai tantangan pertumbuhan dan pembangunan ekonomi.

REFERENSI

Bahan Ajar, Data, Jurnal, dan Publikasi

Assadourian, E. (2012). The Path to Degrowth in Overdeveloped Countries. In State of the World 2012: Moving Toward Sustainable Prosperity. Worldwatch Institute (pp. 22–37). https://doi.org/10.5822/978-1-61091-045-3_2

Büchs, M., & Koch, M. (2019). Challenges for the degrowth transition: The debate about wellbeing. Futures, 105 (September 2018), 155–165. https://doi.org/10.1016/j.futures.

2018.09.002

ISA. (2019, April). Dialog Global. International Sociological Association, 29–31. Retrieved from http://globaldialogue.isa-sociology.org/wp-content/uploads/2019/03/v9i1-indonesi an.pdf

Julia, Lusiana (2017). ILO Jakarta, retrieved from https://www.ilo.org/wcmsp5/groups/ public/—asia/—ro-bangkok/—ilo-jakarta/documents/presentation/wcms _550899.pdf

Lokadata (2020). Retrieved from https://lokadata.beritagar.id/chart/preview/jumlah-pekerja- formal-dan-informal-2012-2019-1565591307#

Tim Dosen Ekonomi Pembangunan Islam (2020). Kuliah Kesatu: An Introduction [Powerpoint Slides]. Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia

Internet

Citradi, T. (2019). Jam Kerja RI Dinaikkan Jadi 48 Jam, Produktivitas Meningkat? Retrieved March 28, 2020, from CNBC Indonesia website: https://www.cnbcindonesia.com/ market/20190920170024-17-101076/jam-kerja-ri-dinaikkan-jadi-48-jam-produktivitas- meningkat

Ghosh, S. (2020). China’s air pollution dropped dramatically after coronavirus lockdown. Retrieved March 20, 2020, from businessinsider.sg website: https://www.businessinsider.sg/satellite-images-air-pollution-drop-china-coronavirus-2020-3

Hijauku.com. (2012). Ekonomi Negatif Ide Baru Selamatkan Bumi. Retrieved February 26, 2020, from https://hijauku.com/2012/10/22/ekonomi-negatif-ide-baru-selamatkan-bumi/

KBBI.web.id. (2019). Eudaemonisme. Retrieved March 30, 2020, from KBBI website: https://kbbi.web.id/eudaemonisme

MES-UK. (2019). Degrowth dan Interseksinya dengan Ekonomi Islam. Retrieved February 25, 2020, from MES-UK.org website: https://www.mes-uk.org/degrowth-ekonomi-islam/

Nursya’bani, F. (2018). PBB Sepakat Terapkan Perjanjian Iklim Paris 2015. Retrieved March 28, 2020, from Republika.com website: https://www.republika.co.id/berita/inter nasional/eropa/18/12/16/pju9mb382-pbb-sepakat-terapkan-perjanjian-iklim-paris-2015

Smedley, T. (2019). Perubahan iklim: Semakin sedikit jam kerja karyawan, semakin besar peluang bumi diselamatkan? Retrieved February 26, 2020, from BBC Future website: https://www.bbc.com/indonesia/vertcap-49624805

SPN. (2018). Fenomena Pengurangan Jam Kerja di Sejumlah Negara. Retrieved March 25, 2020, from https://spn.or.id/amp/fenomena-pengurangan-jam-kerja-di-sejumlah-negara/

Widyaningrum, G. L. (2020). Karantina Wilayah Akibat Pandemi COVID-19, Polusi Udara Berkurang. Retrieved March 20, 2020, from Nationalgeographic.grid.id website: https://nationalgeographic.grid.id/read/132065764/karantina-wilayah-akibat-pandemi- covid-19-polusi-udara-berkurang?page=all

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *